“Ah, wakata! Kamu Joko kan, tunggu sebentar!” Perempuan bermata sipit itu masuk ke dalam dan kemudian kembali sambil membawa sebuah kotak kayu berukir bunga sakura.
“Sumini sudah meninggal minggu lalu karena sakit paru-parunya. Ini adalah abu jasadnya dan selembar surat untukmu. Kami minta maaf tidak bisa menguburkannya sesuai agamanya karena itu sangat sulit dilakukan di sini,” sambil menitikkan air mata dia menyerahkan kotak tersebut beserta selembar surat.
Baca juga: Subuh yang Berkesan – Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Republika, 15 Oktober 2017)
Aku terkejut. Dalam kondisi masih tidak percaya, aku mulai membaca lembar surat itu. “Nak Joko, maaf merepotkanmu, tapi aku tidak punya siapa pun untuk kumintai tolong. Jika aku mati, aku ingin abu jasadku kau simpan dan bawalah ke tanah air saat kau pulang suatu saat nanti. Meski aku sudah menghabiskan hampir separuh hidupku di tanah orang, aku ingin abuku dikubur di tanah kelahiranku. Tanah yang selalu kurindukan sepanjang perantauanku, Indonesia. Aku mohon dengan sangat kepadamu. Wassalam”
Tiket yang telah kugenggam di tangan kembali kumasukkan ke dalam saku. Seketika, bayangan wajah Nenek Sumini muncul dalam benakku. Wajahnya tersenyum sendu menunjuk kan ekspresi merindu. Dengan punggung tangan aku usap mataku yang sudah basah. Tenang saja, Nek! Paket terakhir darimu akan kuantarkan dengan tanganku sendiri. Kita berdua akan kembali ke Indonesia, bersama-sama.■
Syahirul Alim Ritonga. Penulis merupakan anggota FLP Yogyakarta dan merangkap menjadi mahasiswa T. Mesin UGM.