“Terima kasih Joko, sering-seringlah datang ke sini. Lain kali aku akan memasak sayur rodeh,” ujar Nenek Sumini sembari melambaikan tangan. Mendengar itu aku tertawa, pasti yang dimaksud nenek adalah sayur lodeh. Aku balas melambaikan tangan sambil mengangguk.
Satu bulan berlalu, kesibukan kerja belum memberikan aku waktu untuk kembali mengunjungi Nenek Sumini. Meskipun begitu, sebenarnya aku sudah mempersiapkan sebuah hadiah spesial untuknya.
Baca juga: Bulan Memancar – Cerpen Tjak Parlan (Republika, 19 Agustus 2018)
Siang ini, sebelum mengambil paket spesial di rumah nenek, aku pulang terlebih dahulu untuk mengambil hadiah yang telah aku siapkan. Hadiah itu adalah sebuah tiket pesawat pulang pergi ke Indonesia. Sementara untuk akomodasi, aku telah meminta adikku untuk mengurus keperluan nenek selama di tanah air.
Demi membeli tiket ini aku harus mengikhlaskan satu bulan gajiku. Sedikit berat memang, tapi entah mengapa hati kecilku berbisik bahwa aku harus melakukannya. Aku senang bila bisa membantu mengobati kerinduan Nenek Sumini kepada negerinya.
Sesampainya di apartemen itu, aku langsung menekan bel. Terdengar suara langkah kaki mendekat dari balik pintu. Gagang pintu terputar dan mulai terbuka. “Kejutan!” teriakku sambil menunjukkan selembar tiket di tanganku.
Baca juga: Riwayat Haji – Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)
“Hee, nani?” seorang lansia bermata sipit yang muncul dari balik pintu terlihat kebingungan. Aku heran, mengapa yang membuka pintu bukan Nenek Sumini. Kucocokkan kembali nomor rumah dengan alamat yang ada dalam catatanku. Persis, tidak ada yang berbeda.
“Gomenashai! Maaf mengejutkan anda. Apakah Nyonya Sumini ada di rumah? Saya ingin menjemput paket,” sambil menunduk, aku meminta maaf dalam bahasa Jepang.