“Ah, wakata! (Ah saya paham) Joko, kamu adarah orang Indonesia pertama yang mengunjungi apartemen ini dalam waktu dua puruh tahun terakhir.” Aku berusaha menahan senyum, sedikit lucu mendengar Nek Sumini berbicara bahasa Indonesia dengan aksen Jepang. Sepertinya ia sudah terlalu lama tidak menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa huruf ‘L’ bahkan tertukar dengan huruf ‘R’, sesuatu yang menjadi ciri khas aksen Jepang. “Kamu mau minum teh duru? Apa itu bahasa Indonesianya? Ah, siratu rahim! Kamu mau siraturahim di daram terlebih dahuru?”
Baca juga: Kupu-Kupu Bersayap Elang – Cerpen Shinta Putri Wulandari (Republika, 14 Oktober 2018)
Meski aku sudah sangat penat, demi melihat wajah girang Nek Sumini aku sungkan untuk menolak. Lagi pula tidak ada salahnya minum teh sebentar. Aku mengangguk setuju. Nenek Sumini girang bukan kepalang. Dengan langkah tertatih-tatih ia langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam.
Apartemen itu berukuran tidak terlalu besar, cocok untuk lansia. Di bagian ruang tengah yang menyatu dengan dapur, aku melihat berbagai dekorasi khas Indonesia. Di dinding aku melihat sebuah kalender lawas bergambar Tugu Yogya dan bertuliskan 1987. Di atas televisi aku melihat foto mantan presiden kedua Indonesia yang bersisian dengan gambar burung garuda. Sementara di atas meja, sebuah tape lawas dengan merdu mengalunkan suara indah Kang Ebiet. Aku merasa seperti di kampung.
Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)
Dimulai dengan secangkir teh melati, obrolan kemudian mulai mengalir dengan ringan. Tentu saja Nenek Sumini yang lebih banyak bercerita dan aku memilih menjadi pendengar yang baik. Tiga puluh tahun lebih meninggalkan tanah air membuat Nenek Sumini kenyang dengan pengalaman yang menarik. Walau baru saja bertemu, aku senang mendengar ceritaceritanya.
“Apakah nenek tidak rindu dengan Indonesia?” tanyaku.
“Tentu aku rindu. Kalau boleh jujur, aku sangat ingin kembari ke tanah air.” Jawabnya sambil menyeruput teh dari gelasnya.