“Dengar, Nak, laut tak setenang kelihatannya. Butuh keahlian dan nyali yang cukup untuk mengarunginya. Dan kau bisa mempelajari itu dari perahu-perahu tempatmu bantu-bantu itu, dari orang-orang yang telah menelan begitu banyak rasa asin di lautan. Sejatinya, kau sangat beruntung. Pada mereka kau belajar, dan kau dibayar…”
Dan kata-kataku rupanya tidak mempan untuk meredam gelegak kelelakiannya yang mulai matang. Dari hari ke hari ia semakin bersikeras, katanya, “Mak sudah mulai tua, upah Mak sebagai buruh di pengeringan ikan tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sudah saatnya aku menggantikan bapak, bekerja dan mengurus emak, bukan sebaliknya.”
Baca juga: Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa – Cerpen Edi A.H. Iyubenu (Jawa Pos, 11 November 2018)
Dan pagi itu, dengan wajah mengkilap, kulihat ia menyeret sampan kecil milikmu. Sampan setia yang telah mati suri selama dua belas tahun. Ia berjibaku seorang diri memperbaiki sampan kecil itu. Berbekal palu, paku, serta kayu-kayu bekas yang ia dapat entah dari mana. Hampir seharian ia membuat suara gaduh di belakang rumah. Jelang petang, ia menuntunku ke buritan seolah ingin memberikan kejutan.
“Lihatlah!” serunya. Dan sampan lawas itu, meski nyaris tak ada bedanya dengan sebelumnya, tampak telah siap untuk digiring melaut. Sebuah jala tua dengan benang senar yang telah diperbaharui juga telah siap untuk dijabar. Rantainya yang karatan bergemerincing menyentuh tanah.
Baca juga: Balung Kere (Bagian 2-Habis) – Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 04 November 2018)
“Semuanya akan dimulai dari sampan dan jala ini,” ungkapnya penuh harapan.
Esok harinya, ia pun pergi, dengan jala tersampir di bahu. Dengan langkah tak terpatahkan ia menyeret sampan itu. Menyisakan jejak panjang di atas pasir. Setiap jengkal langkah dan gerak tubuhnya yang merapat ke bibir pantai mengingatkanku padamu.
“Tak usah terlalu keras pada diri sendiri, kau masih berlatih. Jangan bersampan terlalu jauh, pulanglah kalau merasa lelah,” pesanku di antara gemerisik ombak.