“Aku tak percaya, melaut tidak mungkin semudah itu!”
“Menurutku ini adalah balas budi ikan-ikan atas kebaikan bapakku,” serunya kemudian.
Barangkali orang-orang menganggapnya sebagai bocah pembual. Bukankah bisa saja, seorang nelayan dengan perahu besar melihatnya terimbak-imbak di tengah laut dengan jala bobrok yang tak mungkin menghasilkan apapun, lantas nelayan itu merasa kasihan dan menuangkan sejumlah ikan ke sampan kecilnya.
Baca juga: Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 1) – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 07 Oktober 2018)
“Aku yakin, ikan-ikan itu hanya membalas budi. Kata bapak, ikan adalah makhluk yang tahu balas budi,” ujarnya lagi.
Barangkali orang-orang tak akan paham dengan apa yang ia maksudkan. Tapi aku segera paham. Cerita itu. Cerita itu barangkali telah menjamur dalam kepalanya. Telah ia percayai sebagai sebuah kejadian nyata di masa silam. Mendekati sebuah legenda.
Dulu, selepas kau menghilang, ia kerap memintaku menceritakan kisahmu sebelum tidur. Ke mana kau pergi? Mengapa kau tak pernah pulang? Dan aku pun mengarang cerita itu. Cerita tentang lelaki yang tubuhnya habis dimakan ikan-ikan kecil. Orang-orang menceritakan sebuah kebenaran padanya, bahwa bapaknya hilang saat melaut, barangkali tenggelam oleh badai. Tapi ia tak pernah memercayai cerita orang-orang. Ia lebih memercayai ceritaku…
Baca juga: Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 30 September 2018)
Kusampaikan padanya, bahwa kau takkan mungkin pergi tanpa alasan. Kau tidak hilang begitu saja. Tidak pula tenggelam oleh badai. Kau hanya pergi untuk memberi makan ikan-ikan kecil yang ada di lautan. Ikan-ikan kecil yang kurus dan kelaparan. Ketika itu, musim memburuk, dan ikan-ikan seperti menghilang begitu saja dari peredaran. Hasil tangkapanmu, atau tangkapan siapapun, tak pernah memuaskan. Berhari-hari kau pergi melaut, pulang menjelang malam, dan hanya membawa beberapa ekor ikan.