Ketika sampan itu mulai berayun-ayun di atas lidah ombak, bersimpangan dengan perahu-perahu lain, tubuhku berguncang sebentar. Seolah telah siap digempur kehilangan untuk kedua kali. Kulihat ia tersenyum tiada lepas, melambaikan tangan, lalu mendayung ke tengah laut. Menjelma titik kecil yang hilang di garis batas antara langit dan laut.
Hari itu, hampir setiap jam aku berjingkat ke lepas pantai. Dengan perasaan cemas tiada dua. Ketika matahari telah mencodongkan bayang-bayang rindang ketapang ke arah timur, aku melihat titik hitam kecil di batas garis antara langit dan laut. Titik kecil hitam yang mengembang menampakkan wujudnya sebagai sampan kecil dengan seorang anak lima belas tahun di dalamnya. Aku bersorak girang melihatnya pulang. Aku tak peduli, bahkan seandainya ia tak membawa ikan sama sekali. Ini adalah hari pertamanya melaut. Seorang diri. Dan satu-satunya hal yang kuharapkan adalah ia cepat kembali. Dan ia kembali. Bahkan lebih cepat dari yang kubayangkan.
Baca juga: Balung Kere (Bagian 1) – Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 28 Oktober 2018)
Ketika sampan itu sampai ke bibir pantai. Bocah itu berseru lantang dan melompat dari dalam sampan. Ikan-ikan seperti berjatuhan dari tubuhnya.
“Lihatlah! Semua berkat bapak! Semua berkat bapak!” serunya. Tubuhnya berkilapan dan menguarkan amis laut yang begitu pekat.
Aku melongok ke dalam sampan, dan di dalam sampan itu tampak ikan-ikan berbagai jenis dan ukuran berserak, berlompatan, menggelepar, melimpah ruah.
“Aku hampir saja tenggelam, karena sampannya terlalu mungil untuk menampung ikan sebanyak itu,” imbuhnya dengan wajah berbinar.
Baca juga: Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 2-Habis) – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 14 Oktober 2018)
Orang-orang berhamburan mendekati sampanmu yang kini telah menjadi sampannya. Pemandangan seperti itu—sampan kecil dengan ikan melimpah di dalamnya, hampir tak pernah dijumpai orang. Nelayan kecil dengan sampan kecil tak mungkin bisa menangkap ikan sebanyak itu. Pemandangan seperti itu terlihat untuk terakhir kalinya dua belas tahun silam. Saat kau pergi dan hanya memulangkan sampan.
“Bagaimana kau menangkapnya?” seru riuh teman-temannya.
Bocah itu menjawab dengan bangga, “Aku hanya melemparkan jala, dan ketika aku mengangkatnya, ikan-ikan itu sudah tersangkut begitu saja di sana.”