Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-Ikan Kecil

Baca juga: Kabut Asap – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Jawa Pos, 09 September 2018)

Sejak hari pertama pergi melaut dan pulang dengan segunung ikan, ia semakin bersemangat. Setiap pagi dan petang pekerjaannya hanya memeriksa sampan dan memperbaiki jala. Lalu pergi melaut lagi esok paginya, dan pulang dengan tangkapan ikan yang tak pernah sedikit. Dengan hasil tangkapan yang lumayan itu, ia bisa membeli sampan yang lebih layak. Membeli jala yang lebih lumrah. Bahkan ia bisa membangun kakus dan merenovasi rumah papan yang selama puluhan tahun nyaris tak tersentuh perbaikan.

Bocah itu begitu membanggakan, ia telah berdiri di atas cita-citanya untuk mengurus dan menghidupi emaknya di usia senja. Hingga di usianya yang ke tujuh belas, tepat tujuh belas hari selepas hari kelahirannya, sebuah sampan penuh ikan berenang ke bibir pantai. Tanpa tuan. Sampan itu adalah sampannya.

Baca juga: Lelaki Herbivora – Cerpen A. Warits Rovi (Jawa Pos, 02 September 2018)

Sehari sebelumnya, salah seorang nelayan mengatakan, sebelum senja benar-benar turun, dan beberapa nelayan yang pulang sore mulai menepikan perahunya, ia memergoki bocah itu tengah melamun di atas sampan yang bergoyang ringan. Satu tangannya dicelupkan ke permukaan laut. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukannya, bocah itu menjawab dengan seruan, “Aku sedang memberi makan ikan-ikan kecil.” Dan nelayan itu bersumpah, ia memang melihat ikan-ikan kecil—yang tak terhitung jumlahnya, tengah berenang di permukaan laut. Mengerubuti tangannya.

Sejak hari itu, ia tak pernah pulang. Tak pernah pulang.***

 

Ngijo, Malang, 2017

Mashdar Zainal. Lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Buku terbarunya adalah “Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran” terbitan 2018. Kini bermukim di Malang.

Arsip Cerpen di Indonesia