Maka kau berkata padaku, “Ikan-ikan menghilang, mereka tak mau menghampiri jala, hanya ada ikan-ikan kecil yang berenang di permukaan. Ikan-ikan yang kecil, kurus dan tampak lapar. Ketika tanganku kucelupkan ke permukaan air, ikan-ikan itu mengerubuti dan memakan tanganku sedikit demi sedikit, mulai dari daki yang menempel sampai bagian kulit yang paling tipis… Tak ada rasa sakit, hanya ada rasa geli yang menyenangkan.”
Lantas, semenjak cerita pertama tentang ikan-ikan kecil itu, kau pun terus pergi ke laut. Bukan untuk menangkap ikan, tapi untuk memberi makan ikan. Ikan-ikan kecil.
Baca juga: Misteri Seorang Tukang Cukur – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 23 September 2018)
Dari waktu ke waktu, ikan-ikan itu pun perlahan menjadi gemuk. Dan kau telah begitu setia memiara mereka. Dan mereka telah begitu setia menunggu tubuhmu. Setiap kali pulang melaut, kau selalu kehilangan bagian tubuhmu. Karena ikan-ikan itu telah memakannya sedikit demi sedikit. Tanpa rasa sakit. Hanya rasa geli. Mulai dari jemari tangan kiri, lalu jemari tangan kanan. Lalu lengan bagian bawah, lalu lengan bagian atas. Lalu jemari kaki, lalu betis. Dan seterusnya, dan seterusnya… Membuat tubuhmu aus dan susut.
Ikan-ikan itupun semakin besar dan gemuk, lalu beranak pinak. Dan tubuhmu pun semakin kurus, semakin habis. Lalu, pada hari ketika tubuhmu habis dimakan ikan-ikan, kau berpesan kepadaku, “Mungkin hari ini aku tak akan plang. Jadi jangan pernah menungguku. Jangan pernah mencemaskan aku. Sisa tubuhku ini akan menjadi kenduri bagi ikan-ikan kecil, sampai habis. Sampai ikan-ikan itu menjadi benar-benar gemuk dan kekenyangan. Selama berabad-abad, sejak pertama kali ikan diciptakan, ikan-ikan telah memberi makan begitu banyak anak manusia, dengan tubuhnya. Termasuk nenek moyang kita, para nelayan. Kini, saatnya aku membalas budi mereka, memberi makan anak-anak ikan. Dengan tubuhku…
Baca juga: Pencegahan Bunuh Diri – Cerpen Jaroslav Hasek (Jawa Pos, 16 September 2018)
“Kelak ikan-ikan yang kuberi makan itu pun akan memberitahu para keturunan mereka untuk membalas budiku. Memberi makan anak cucuku. Ikan adalah makhluk yang tahu balas budi. Kelak, setelah tubuhku habis tak bersisa. Anak cucuku tak akan pernah kelaparan. Mereka tak akan pernah kehabisan ikan. Jala-jala mereka akan dihampiri ikan-ikan, dan sampan-sampan mereka akan dilimpahi ikan-ikan.”
Lantas, aku kembali pada cerita yang sesungguhnya. Cerita tentang sebuah senja dengan sampan kecil yang berenang ke bibir pantai. Sampan kecil berisi penuh ikan. Sampan kecil tanpa tuan. Sampanmu seorang.