Kala itu angin yang menyunggi harum tebu menatah silir lirih di wajah mereka dan bulan terapung mendamba sirip di lautan kabut-kabut tipis, cahayanya jatuh memaram rambut Vita. Sebagian berperak di kenyal pipinya yang kekuningan.
Ia bersenda tawa dengan Vita sembari kejar-mengejar. Melempar-lempar boneka, jatuh pelan berguling, berpelukan. Mereka terus cekikikan tak peduli pekat malam mengintai dari reranting daun cemara yang menyampir pagar loteng kala itu.
Baca juga: Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu – Cerpen Umi Rahayu (Suara Merdeka, 11 November 2018)
Terakhir ia hanya mengingat menit paling mencekam, saat terpeleset membentur pagar loteng hingga pagar itu patah, dan ia terjatuh ke paving, merasa tulang-tulangnya remuk, tubuhnya berantakan dan Vita terdengar berteriak memanggil dia. Lalu ia tak ingat apa-apa.
Ia tak tahu setelah itu nasibnya bagaimana. Ia tak tahu bagaimana tangis Vita saat melihat dia jatuh dari loteng hingga terpelanting ke paving. Perlahan ia menerka-nerka episode hidupnya; mungkin setelah jatuh, ia pingsan dan Vita menangis histeris.
Baca juga: Negeri Asap – Cerpen Angga T Sanjaya (Suara Merdeka, 04 November 2018)
Setelah pingsan, ia mengira ada dua kemungkinan terjadi pada Vita; mungkin Vita tetap di rumah itu atas nama cinta atau mungkin menikah dengan lelaki lain tanpa harus disiksa kenangan.
Lelaki itu tak menunggu waktu lama, tak peduli tubuhnya kumal dan bau, ia langsung melangkah ke arah Jalan Sidomukti, menuju rumah yang pernah ia sewa bersama Vita. Malam yang diarsir cahaya bulan temaram membantunya tertatih di sepanjang trotoar, menuju rumah kontrakan itu. Angin malam menjamah rambutnya dengan cucup yang lembap. Tak sampai lima belas menit, ia telah tiba di rumah. Sebuah rumah berlantai dua, menghadap ke utara, berornamen paduan Belanda kuno dan corak Jawa, warna tembok yang putih sedikit kusam bergaun lintang ujung sawang laba-laba dan rengkuhan debu. Kayu jendela dan pintu bercat cokelat tua. Ia melangkah menuju halaman, sembari mengamati keadaan sekitar.