“Kau ibu Vita kan?” lelaki itu yakin perempuan di depannya itu ibu kekasihnya.
Perempuan itu tak menjawab. Keduanya bersitatap. Mencari sisa-sisa kenangan melalui wajah masing-masing.
“Ini aku, Awi,” lelaki itu memperkenalkan dia dengan tangan terbuka.
Baca juga: Suara Azan Simbah – Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 07 Oktober 2018)
“Dulu, aku pacar Vita, anak Ibu. Ke mana dia sekarang?” tanya lelaki itu sembari meneteskan air mata.
Si perempuan tetap tak mau bicara. Ia bangkit, menarik lengan lelaki itu, untuk naik ke loteng. Lelaki itu pun mengikuti dengan cemas.
Setiba di loteng, perempuan itu mempersilakan tamunya mengamati keadaan sekitar. Mata lelaki itu berbinar mengamati sekitar: masih tak berubah, semua tampak seperti saat dia bersenda dengan Vita. Yang berubah hanya warna tembok, pagar loteng, dan lantai.
Baca juga: Ibu, Ayah di Mana? – Cerpen Fahmi Abdillah (Suara Merdeka, 30 September 2018)
“Apa maksud Ibu memperlihatkan semua ini?”
“Aku ingin menunjukkan saksi kesucian cintaku kepadanya. Dulu, sebelum terpisah, kami bersenda di sini, menikmati keindahan yang tak terduakan. Namun malang,” mulut perempuan itu tiba-tiba seperti terkunci, rapat menggigit, seiring tangannya gemetar dan air mata memancar.