“Malang? Malang kenapa, Bu?”
“Ia tak sengaja menyenggol pagar ini. Sebagian pagar patah dan ia jatuh ke paving.” Perempuan itu terpejam, berusaha menahan arus air mata, isaknya meringis seperti menunjukkan keadaan batin sangat luka.
Lelaki itu terkejut. Napasnya naik-turun mengimbangi urat-urat nadi yang tegang. Cerita perempuan itu sama persis dengan keadaan yang menimpa dia sebelum tidur panjang di sebuah got. Namun ia lantas menoleh wajah perempuan itu dengan tatap cemas. Ia kurang percaya perempuan itu Vita. Ia hanya percaya perempuan itu ibu Vita.
Baca juga: Tangisan dari Bawah Tanah – Cerpen Saleojung (Suara Merdeka, 23 September 2018)
“Vita cantik dan muda, tidak tua seperti perempuan ini,” gumam lelaki itu. Matanya masih tak alih, menyorot tubuh perempuan kurus kering, kulit keriput, mata suram dan cekung seperti lama ditusuk pisau kesedihan, bibir merah beku penuh bekas kunyahan sirih. Sesekali ia diguncang batuk dan jarinya menggaruk kepala yang dipenuhi jerumbai uban dan kutu. Perempuan itu sudah bisa disebut nenek.
“Maaf, jika boleh tahu, nama Ibu siapa?”
“Sejak peristiwa memilukan di loteng ini, aku lupa namaku. Ingatanku lebih tertuju ke kekasihku yang tampan dan muda itu.”
Baca juga: Burhan – Cerpen Achmad Agung Prayoga (Suara Merdeka, 16 September 2018)
“Nama kekasihmu siapa, Bu?”
“Aku lebih ingat wajahnya ketimbang namanya,” tegas perempuan itu sambil menyeka air mata.
Lelaki itu bingung mesti bersikap. Sedang ia tak ingat nama kekasihnya. Sepintas ia beranggapan perempuan itu tak ada hubungan dengannya, meski pernah mengalami hal sama di loteng ini.