“Rumah ini dulu kan kontrakan. Apa Ibu yang mengontrak?”
“Sebelum aku hilang ingatan, rumah ini kubeli. Intinya tak ada yang lebih penting di rumah ini, kecuali mengabaikan loteng ini tetap seperti ini, sebagai cara mendatangkan kenangan, agar kekasihku hadir dan menemuiku dalam ingatan,” ujar perempuan itu sambil merapikan sanggul.
“Sejak kapan rumah ini kaubeli?”
Baca juga: Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat – Cerpen Galang Hutriadi (Suara Merdeka, 09 September 2018)
“Sejak kalender itu bergantung di tembok itu.” Jari telunjuknya menuding lurus kalender usang yang lembar luarnya disilir angin, tepinya penuh cipratan tempias air hujan, bolong-bolong dan warnanya memudar. Lelaki itu bangkit menuju kalender. Ia meraba cetakan angka tahun yang masih tampak jelas: 1952.
Air mata lelaki itu kembali tumpah. Kalender itu adalah kalender yang ia pasang saat mengontrak rumah itu. Lembar kertas itu pun jadi saksi saat dia jatuh.
“Setelah jatuh dari loteng ini, kekasihmu ke mana?” Kembali ia menoleh ke perempuan tua yang menyandarkan tubuh ke tembok.
Baca juga: Percumbuan Topeng – Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 02 September 2018)
“Ia dilarikan ke rumah sakit. Tak ada luka serius pada tubuhnya. Hanya ia hilang ingatan. Ia berjalan dari satu kota ke kota lain, menyusur sunyi dan keramaian dengan tubuh dan pakaian tak terurus. Aku kasihan kepadanya. Hatiku tersayat duka bila mengingatnya. Hingga tibalah suatu waktu, ketika aku dipasung. Kata orang-orang, aku gila. Setelah dua tahun hidup terpasung, akhirnya aku menempati rumah ini lagi. Tentu dengan ingatan tak sepenuhnya kembali. Di sini aku menunggu kekasihku kembali,” ucap perempuan itu lembut.