Sepasang Kekasih di Atas Loteng

Rumah kontrakan itu tak terlalu banyak berubah. Bunga-bunga tumbuh lebat di seluruh tepian halaman. Halaman yang seperti tak terurus, dipenuhi daunan kering dan patahan ranting. Di depan rumah, sebatang pohon cemara terdiam bagai penjaga tua kelelahan. Ia mendongak ke sisi kanan atas cemara yang menyampir loteng. Di sana masih ada pagar besi yang patah berantakan. Lelaki itu bergidik, mengingat kejadian buruk yang pernah menimpa.

Kaki lelaki itu mendekat ke pintu. Bunyi daunan kering terdengar dari bawah telapak kakinya. Sebelum mengucap salam, ia melihat seorang perempuan duduk bersandar di sebuah kursi di loteng rumah. Ia mengira perempuan itulah kini yang menyewa rumah kontrakan itu.

Baca juga: Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda – Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 28 Oktober 2018)

Perempuan itu sangat tua, kulit wajahnya dilukis garis-garis keriput, lehernya bergelambir, rambutnya yang memutih diurai ke sandaran kursi. Ia seperti memikirkan sesuatu yang sangat serius. Matanya jarang berkedip, lurus ke depan, pada seregu kelelawar yang mengitari pucuk cemara.

Tak peduli kenal atau tidak, lelaki itu memanggil dari bawah si perempuan dengan sebutan ibu dan minta izin agar sudi membukakan pintu. Perempuan itu pun bergegas turun dan membuka pintu dari dalam. Setelah sedikit bercakap, ia mempersilakan lelaki itu masuk. Keduanya duduk di ruang tamu yang kusam.

Baca juga: Maria dan Mario – Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Oktober 2018)

Lelaki itu mengedar pandangan. Ruang itu tak asing bagi penglihatannya, terutama saat sorot matanya menatap guci tua bergambar buaya di pojok tenggara. Lalu matanya tertuju ke wajah perempuan di depannya. Perempuan itu sangat pasif. Ia tak mau bicara jika tidak dilempar pertanyaan. Lebih sering menunduk. Membiarkan rambut awutnya yang bertabur telur kutu sedikit juntai ke depan.

Saat menatap wajah perempuan itu, si lelaki bisa menemukan peta masa lalunya. Perempuan tua di depannya hampir sama dengan Vita.

Arsip Cerpen di Indonesia