Kisah Si Kembar

Betul saja, sekali klik foto-foto anggota DPR muncul berjajar. Mata Ula langsung tertuju kepada foto yang di tengah. Dewa namanya. Ula menatap foto Dewa berlama-lama. Ula mengeluarkan fotonya dari saku, lalu memandangnya berlama-lama. Bukan hanya raut wajah, mancung hidung, hitam mata, bahkan kumis mereka juga sama.

Ia kemudian mengetik nama Dewa Pandawa di kolom search akun Facebook-nya. Banyak akun Facebook bernama Dewa, tapi Ula mengenali Dewa yang dicarinya dengan melihat foto profil.

Dewa ternyata seorang pengusaha. Foto-fotonya kebanyakan di tempat-tempat wisata di Nusantara. Ada juga foto di luar negeri. Ada beberapa foto baru saat dilantik menjadi anggota DPR. Istrinya perempuan cantik berusia kira-kira 30 tahun. Anaknya tiga.

Ya, ternyata ada juga perbedaan mereka. Ula anaknya hanya dua. Istrinya, Iroh, usia 35, tapi terlihat lebih tua karena tidak pernah mengurus wajah secara khusus. Istri dan anak-anak Ula tinggal di Ciakar, sebuah kampung di kaki Gunung Ciceuri, Sumedang. Ula berjualan sayuran di Pasar Ciroyom, Bandung, tinggal sendiri di kamar kontrakannya. Biar hemat. Sebulan sekali ia pulang ke rumah.

Baca juga: Kepergian Bapak – Cerpen Anggi Nugraha (Media Indonesia, 18 November 2018)

Ula mencatat nomor ponsel yang ada di akun Facebook Dewa. Lantas, diserahkan fotonya kepada penjaga warnet. “Jang, tolong masukkan foto ini ke Facebook,” kata Ula.

***

Hanya karena semata penasaran, Ula menghubungi nomer ponsel Dewa. Waktu ada yang menjawab panggilannya, Ula malah terkejut.

“Halo,” kata Ula pendek.

“Papah, lagi di mana?” tanya suara dari seberang. Suara seorang perempuan. Begitu lembut.

Eu… saya mah, saya mah….”

Arsip Cerpen di Indonesia