Kisah Si Kembar

“Tidak, Pak. Tidak sama sekali.”

Berhenti lagi beberapa detik.

“Kamu melakukan apa dengan istri saya?” lanjut Dewa.

“Tidak Pak. Tidak melakukan apa-apa.” Ula semakin ketakutan.

“Kalau kamu datang ke rumah saya, istri saya pasti mengira kamu itu saya!”

“Ampun, Pak, saya tidak melakukan apa-apa.”

Berhenti lagi beberapa detik.

***

Baca juga: Kesetiaan Adalah Ketabahan Menunggu – Cerpen Erwin Setia (Media Indonesia, 28 Oktober 2018)

Besoknya, saat Ula istirahat di kamar kontrakannya, ada yang mengetuk pintu. Ula terkejut, badannya bergetar seperti demam, saat dua orang yang datang itu mengaku polisi. Ula disuruh segera membereskan barang-barangnya. Ula lalu dibawa oleh dua orang polisi tidak berseragam itu ke sebuah perumahan di tengah persawahan di Ciwastra.

“Sejak sekarang kamu tidak boleh keluar rumah. Makanan dan kebutuhan lainnya bakal ada yang mengirim,” perintah salah seorang polisi itu.

“Ampun, Pak, kalau tidak berjualan bagaimana saya harus ngirim uang ke kampung?”

“Kamu tetap pulang ke kampung sebulan sekali. Uang dikasih sebesar yang biasa kamu bawa. Tapi, selama di sini kamu tidak boleh keluar rumah. Selama di kampung kamu tidak boleh berkeliling. Cukup menengok istri, anak-anak, dan orangtua, lalu pulang lagi ke sini. Sudah diatur segalanya dari Jakarta!”

Begitu yang diatur Dewa.

***

Arsip Cerpen di Indonesia