“Coba lihat telapak tangan,” ujar Dewa sambil membuka telapak tangannya sendiri. Ula mengikuti permintaan Dewa. Keduanya semakin bingung. Garis-garis telapak tangan itu, sama sampai ke garis-garis kecilnya.
Setelah kembali saling memandang, berdiam diri, dengan pikiran masih belum mengerti, bingung, entah yang keberapa kalinya; Ula pamit pulang.
“Sebentar, ada satu lagi kepenasaran saya. Saya punya tanda lahir di perut,” kata Dewa sambil membuka kancing bajunya. “Kamu juga punya tanda seperti ini?”
***
Seminggu sejak pertemuan dengan Dewa, ponsel Ula berdering. Ula terkejut karena yang menghubunginya langsung menuduh yang bukan-bukan.
“Saya baru ingat, kamu pernah menghubungi istri saya, apa maksudnya?” tanya Dewa di seberang telepon.
Baca juga: Keris Lancip Putri Nglirip – Cerpen Daruz Armedian (Media Indonesia, 04 November 2018)
“Tidak ada maksud apa-apa, Pak.”
“Kenapa menghubungi istri saya?”
“Maksud saya menghubungi Bapak, tapi yang angkat istri Bapak.”
“Apa maksudnya menghubungi saya?”
“Penasaran saja.”
Berhenti beberapa detik.
“Kamu mungkin pernah datang ke rumah saya, ya?” cecar Dewa lagi.
“Tidak pernah, Pak. Alamatnya juga tidak tahu.”
“Ah, alamat gampang dicari. Kamu juga bisa tahu nomor telepon saya. Di rumah saya kemarin kehilangan perhiasan.”