“Papah kenapa? Ini HP Papah ketinggalan di rumah.”
“Saya mah Ula, dari Bandung. Bisa bicara dengan Bapak Dewa?”
“Ah, si Papah bercanda. Papah sudah sampai di mana sekarang?”
“Oh, nanti saja atuh.” Tut, tut. Ula mengakhiri panggilan.
Besoknya, saat berjualan di pasar, ponsel Ula berdering. Ula terkejut melihat nomor yang olehnya disimpan dengan nama Dewa. Ula setengah berlari ke belakang pasar yang lebih sepi sebelum mengangkat telepon.
“Kamu itu siapa? Maksudnya apa? Jangan menipu keluarga saya, nanti dilaporkan ke polisi! Kamu tahu saya ini anggota DPR…,” kata suara dari seberang langsung marah.
Baca juga: Ketika Kucingmu Pergi Sebentar – Cerpen Alpha Hambally (Media Indonesia, 11 November 2018)
“Bukan begitu… Maaf, Pak… Eu…, saya juga bingung. Suara Bapak dan suara saya mirip. Istri Bapak saja tidak bisa membedakan. Apalagi raut wajah kita. Lihat saja foto saya di Facebook. Nama saya Ula, eh Nakula.”
Seminggu sejak itu Dewa menghubungi Ula lagi. “Besok saya ada acara di Bandung, nginap di Hotel Ibis. Ditunggu di kamar nomor 320, sore sekitar pukul empat ya.”
***
Dewa tidak berkedip saat membuka pintu kamar hotel. Orang yang barusan mengetuk pintu ada di hadapannya. Mereka hanya berjarak 1 meter. Pakaiannya kumal dan bau, mungkin keringat. Namun, raut wajah, hidung, mata, telinga, bahkan garis tua di bawah mata, betapa miripnya mereka.
“Silakan masuk,” kata Dewa. Ragu-ragu Ula masuk ke kamar hotel.
Beberapa jenak keduanya hanya saling memandang, berhadapan di kursi yang dipisahkan meja kecil.