Kopiah Kiai Dullah

Tak lama kemudian Dalijo datang. Ia sehari-hari berjaga dan mengurus halaman rumah mantri Sukemi yang teduh, penuh pohon dan bunga-bunga. Setengah badan Jebul tak bisa digerakkan. Sedikit gerakan membuat luka yang bernanah dan menempel pada celana panjangnya akan menarik kulit yang kemerah-merahan.

“Kenapa tiduran di sini? Pergi sana!!!”

“Anjing buntung! Mana mantri Sukemi? Aku mau berobat!”

“Manusia sepertimu ternyata bisa sakit juga?” Dalijo meledek. Memang dia dan semua warga desa sangat paham dengan tingkah Jebul yang begitu tak senonoh terhadap perempuan. Pernah suatu ketika, ia menyetubuhi bocah yang masih belia di sebuah kebun. Sialnya, ia tepergok seorang warga. Hampir saja mereka mengebirinya. Untung saat itu ada beberapa tentara yang datang dan digiringlah dia ke kantor polisi. Hanya kurungan lima tahun dan setelah bebas, ia kembali dengan tingkah yang sama.

“Pak mantri sedang dinas ke kota,” Ucap Dalijo sambil mengambil sapu dan membuka keran air. “Kalau kau mau menunggu, nanti kira-kira jam 9 baru pulang.”

Jebul hanya terdiam dan menidurkan tubuh kurusnya yang semakin menggigil. Sampai malam ia masih berbaring di kursi itu. Sudah tidak ada tenaga yang ia punya. Selain harapan dari pertolongan mantri Sukemi.

Sudah hampir jam 9. Dari kejauhan terdengar suara motor Honda 70. Sorot lampu  dari arah motor datang, membuat mata Jebul berkunang. Dilihatnya mantri Sukemi dengan setelan jas putih dan celana hitam. Mata sipitnya tertutup kacamata besar. Seperti anak bangsawan ternama, begitu gagah dan berwibawa.

“Adduuhhh,,,,,, Pak Mantri, Pak Mantri! Tolong saya.” Ia mencoba bangun, tapi kesulitan. Tubuhnya benar-benar lemas. Ia tetap tertidur di kursi panjang itu.

Sehabis memarkirkan motornya, Sukemi langsung memasang masker dan sarung tangan. Instingnya tajam, melihat orang yang satu ini, Sukemi sudah bisa memprediksi—bukan sakit yang biasa.

“Kau kenapa?” tanya mantri Sukemi sambil merapikan sarung tangannya.

“Gatal, Pak Mantri. Sekujur kaki bernanah. Badan juga mulai memerah.”

Mantri Sukemi geleng-geleng kepala. Dia belum sempat memeriksa tubuh Jebul, tapi segera mengambil tas hitam. Dikeluarkannya beberapa obat antiseptik dan tablet peredam rasa nyeri, lalu dimasukkan ke dalam kresek putih.

“Aku tidak bisa mengobatimu. Sakitmu sangat parah. Kau seharusnya bertobat, hentikan perilaku burukmu,” tegas Sukemi sembari menakut-nakuti. “Kelaminmu bisa membusuk jika kau terus-terusan.”

Arsip Cerpen di Indonesia