Dari arah belakang terdengar suara orang mengayuh sepeda. Dilihatnya sorot lampu yang redup-redup dari arah sepeda datang. Mulut Jebul membeku, seperti ada yang membungkam.
“Astagfirullah, kenapa tiduran di sini, Kang?”
Jebul tetap terdiam. Tak ada satu kata pun yang meloncat dari mulutnnya. Kedua tangannya tetap beringsut di depan dada. Seorang lelaki yang memakai baju putih menaikkannya ke sepeda. Jebul duduk di bagian belakang dan lelaki tersebut membawanya pulang.
“Kreek.”
“Kreek.”
“Kreek.”
Derit suara ban yang mengenai selebor bertambah keras. Lelaki tersebut mengayuh sepedanya dengan pelan dan penuh hati-hati. Jebul merasa udara terus bertambah dingin. Ditambah lagi ia duduk di bagian belakang sepeda yang terbuat dari besi tanpa dilapisi busa ataupun kain. Selangkangannya semakin dirasa tak keruan. Bukan hanya seperti jarum, ia merasa ditusuk-tusuk belati di bagian pantatnya. Mulutnya semakin bungkam dan hanya menggigil menahan hawa dingin. Matanya bertambah merah.
Sepeda itu berjalan pelan di atas jalan desa yang belum diaspal. Sorot lampu yang berasal dari dinamo sepeda menyala redup. Bunyinya semakin menderit bergesekan dengan ban sepeda.
“Sabar, Kang, sebentar lagi sampai di tempatku,” ucap Kiai Dullah. Dengan hati-hati ia terus mengayuh sepeda. Nasib baik, Jebul ditemukan Kiai Dullah. Beliau adalah sesepuh kampung yang sejak dulu rutinitasnya memberikan pengajian dari langgar ke langgar. Kesederhanaan dan kebaikannya sudah tersohor di desa. Karena itulah beliau dihormati banyak orang. Terbukti, ketika Kiai Dullah mendirikan pondok pesantren, banyak warga desa dan orang dermawan yang membantu pendirian pondok pesantren itu. Usianya kira-kira 60 tahun. Namun, badannya tetap segar dan masih cekatan mengayuh sepeda sampai ke kampung sebelah.
“Nang… Nang. Tolong bantu,” teriak Kiai Dullah sesampai di depan halaman pondok—memanggil-manggil para santri. Beberapa santri melihat Kiai Dullah dari balik jendela. Mereka pun bergegas keluar, berlarian mendekati Kiai Dullah.
“Bau apa ini?” tanya seorang santri yang mendekati Jebul. Mereka berniat menolongnya. Namun, ketika mencium bau anyir dari luka Jebul, beberapa santri menjadi enggan untuk mendekat.