Jebul hanya mengerang, meredam rasa nyeri dari tubuhnya yang tidak seperkasa dulu lagi. Sukemi menaruh kresek putih itu di samping Jebul.
“Sudah, tak usah bayar.”
Sukemi bergegas masuk ke dalam rumah. Mungkin ia merasa letih setelah seharian dinas di kota. Raut wajahnya sedikit kesal. Sebab, sesampai di rumah, ia dihadang Jebul yang meminta pertolongan. Padahal, Sukemi sendiri sama sekali tidak suka dengan tingkah laki-laki yang terkenal suka bermain perempuan itu. Tak lama berselang, Dalijo keluar dari dalam rumah. Ia berdiri di kursi panjang.
“Cepat pergi sana!”
Jebul hanya terdiam. Sakit yang dideranya menjadikan ia begitu sabar dengan segala hal. Termasuk ucapan Dalijo yang semena-mena mengusirnya. Jika saja ia masih muda dan berbadan tegap, mungkin Dalijo bakal digorok lehernya.
Jangankan Dalijo, yang hanya menjadi tukang rumah, dulu sewaktu Jebul muda, ada seorang yang sangat seksi. Tubuhnya seperti gitar Spanyol, wajahnya seperti artis televisi. Waktu itu ia pertama menjajakan diri di kawasan bioskop. Berebutlah dengan seorang preman. Ia pun adu jotos dengan begitu sengit. Hingga akhirnya Jebul sukses membuat babak belur preman dengan perawakan besar kekar tersebut. Nasib baik, Dalijo berani semena-mena saat ia sudah tidak berdaya.
“Cepat sana pergi!”
Jebul mencoba bangun dengan tenaga yang tersisa. Dipegangnya tiang penyangga atap beranda. Sejenak ia berdiam di situ, mengumpulkan tenaga untuk berjalan pulang. Kakinya gemetaran dan jalannya seperti orang pincang. Tubuhnya semakin lemas dan bertambah tak keruan. Dalijo pun menggotong kursi panjang itu ke samping rumah. Dicucinya dengan cairan sabun hingga bersih.
***
“Sialan!”
“Kutu busuk!!!”
Langkah Jebul terseok-seok seperti orang yang perang. Menyusuri jalan pinggiran desa yang gelap. Perlahan Jebul memegangi celana tepat di bagian bawah perutnya. Hampir seperti tertusuk puluhan jarum, sebab luka yang mengeluarkan nanah, menempel pada celana dan mulai berbau anyir. jauh dari rumah mantri Sukemi, ia tersungkur tenaganya sudah habis. Kedua kakinya pun kaku kedinginan. Tubuhnya memanas dan tergeletak tengah jalan. Kedua rahangnya saling menggertak, tangannya telungkup di depan dada gemetaran.