Kopiah Kiai Dullah

“Tapi…..” Jebul terdiam, raut mukanya sedih dan menyesal. “Aku terlalu banyak melakukan zina, Pak Kiai. Apakah Allah mau menerima salatku?”

“Tentu, Kang. Bertobatlah. Kembali ke jalan yang benar,” ucap Kiai Dullah menenangkan. Hati Jebul pun melunak seketika, mendengarkan perkataan Kiai Dullah yang memberinya keyakinan.

Kedua tangan Jebul ditempelkan ke dinding, lalu diusapkan ke wajah. Ditempelkan kembali tangannya ke dinding di bagian yang berbeda, lalu diusapkan ke kedua tangan secara bergantian. Demikian cara Kiai Dullah mengajari Jebul bertayamum dengan perlahan.

Selepas tayamum, Jebul tertegun dengan air muka Kiai Dullah yang begitu cerah. Ditambah kopiah hitam yang pada ujung depannya kemerah-merahan. Menandakan bahwa kopiah tersebut sering terkena air ketika berwudu. Seketika itu Jebul begitu ingin memakai kopiah hitam yang menjadikan Kiai Dullah terlihat sangat menawan dan berwibawa.

“Kiai, bolehkah aku memakai kopiahmu?” Jebul meminta.

“Tentu saja.” Kiai Dullah memberikan kopiah hitamnya kepada Jebul. Ia tampak begitu bahagia. Setelah itu Kiai Dullah pergi untuk mengajar ngaji. Jebul pun salat, namun beberapa kali ia terlupa dengan bacaan salat. Dia menangis dan terdiam begitu menyesal.

***

“Sialan!!!”

“Wanita jalang!!!”

“Kutu busuk!!!”

Obat antiseptik yang diberikan mantri Sukemi sekarang tinggal sedikit. Seluruh isi celananya telah basah dilumuri cairan berwarna putih dan berbau tak sedap. Bintik-bintik merah yang tadinya hanya ada di bagian selangkangan mulai merembet hingga ke perut. Ditelannya beberapa kapsul dengan air mineral. Dia menangis karena tak ada lagi saudara yang mau mengakuinya. Dia hidup sebatang kara, tak ada istri, terlebih anak. Hidupnya dihabiskan dengan bermain perempuan. Penyesalannya ia masukkan ke dalam sarung dan kain selimut. Tak lama kemudian ia tertidur dengan tetap memakai kopiah hitam milik Kiai Dullah.

Pintu diketuk, lalu dibuka. Kiai Dullah melangkah pelan.

“Kang, bangun Kang.”

Beberapa kali Kiai Dullah menepuk Jebul untuk mengajaknya ke rumah sakit, tetapi tak ada jawaban. Tubuh Jebul rapat tertutup kain sarung dan selimut. Kiai Dullah menepuk kembali. Tak ada jawaban.

Arsip Cerpen di Indonesia