“Kang.”
Selimut dibuka dengan perlahan. Namun, Kiai Dullah hanya mendapati wajah yang tersenyum dan begitu putih. Beberapa santri datang dan mengurus tubuh Jebul. Tersiar berita lelayu ke seluruh penjuru desa. Tak lama kemudian beberapa orang berdatangan ke pondok Kiai Dullah. Di antara mereka terlihat beberapa wanita. Ada yang menangis—mungkin menyesal—dan beberapa lainnya bermuka geram. Mungkin saja wanita-wanita tersebut pernah ditiduri Jebul sehingga mereka ingin melihat kutu busuk yang hobinya meniduri wanita itu bakal dimakamkan.
Seorang berkerudung lusuh mendekati Kiai Dullah yang tengah mengatur pemakaman. Memang Kiai Dullah sangat menawan dan berwibawa memakai kopiah hitam yang di ujung depannya kemerahmerahan. Sehingga wanita tersebut sedikit canggung mendekati Kiai Dullah. Ia berjalan cepat sambil merunduk dalam. Mukanya kusam, sama sekali tidak terlihat cantik. Disusul dua wanita lain yang berjalan di belakangnya. Mereka berkerumun dengan begitu malu di depan Kiai Dullah.
“Pak Kiai, maaf Pak Kiai. Anu, apakah saya boleh mengaji di sini?” tanya wanita tersebut dengan begitu berat.
“Tentu saja,” jawab Kiai Dullah. “Tapi, mengapa kalian meminta diajari ngaji? Ini saya sedang mengurus pemakaman.”
Wanita tersebut hanya terdiam. Terlebih dua wanita—lebih tepatnya teman dari wanita tersebut—yang bersembunyi di balik tubuh kurusnya. Hanya diam dan merunduk malu.
“Siapa namamu?” tanya Kiai Dullah kepada perempuan berkerudung lusuh dengan rambut yang mulai beruban terurai keluar. Matanya begitu sembap. Wajahnya merunduk begitu dalam. Terlihat menahan tangis dan keluarlah sedikit air mata. Ia seketika itu merasa menyesal dan kesulitan menjawab pertanyaan Kiai Dullah.
“Anuuu, Darsih, Pak Kiai,” jawabnya dengan terbata.
Pasir Luhur, 2018
Faiz Adittian Ahyar. Petani ikan gurami dari Desa Pasir Kidul Kauman Kulon, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Kini bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto dan menjadi mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Purwokerto.