Kopiah Kiai Dullah

“Sudah, tidak apa-apa. Ayo sini bantu saya. Pegang tangannya. Kasihan, dia kesakitan,” ucap Kiai Dullah dengan penuh lembut.

Dengan penuh takzim kepada kiainya, para santri tersebut membawa Jebul masuk ke dalam salah satu kamar kosong di pondok. Seorang santri mengambil kasur lantai dan menyiapkan selimut. Tubuh kurus Jebul tergeletak di atas lantai beralas kasur tipis milik Kiai Dullah.

Tangan Jebul gemetaran merogoh saku jaket. Diambilnya kresek putih yang berisi obat pemberian mantri Sukemi. Jebul memberi isyarat agar Kiai Dullah membantunya meminum obat. Mulutnya tetap saja bungkam. Seorang santri yang lain bergegas mengambilkan air putih, beberapa makanan, dan buah-buahan.

“Isi perutmu dulu, Kang, sebelum minum obat. Makanlah sedikit roti atau buah.”

Jebul menggeleng. Dengan penuh terpaksa Kiai Dullah tetap menyuapi Jebul meminum obat dengan perlahan.

***

“Sialan!”

“Wanita jalang!!!”

Jebul tertidur karena efek obat dengan dosis yang tinggi membuat matanya tak mampu menahan kantuk yang begitu dahsyat. Sebagian tubuhnya dibalut sarung dan kain selimut. Namun, ia masih saja menggigil. Beberapa jam kemudian, panas tubuhnya mulai reda. Hingga azan Subuh menjelang, dia terbangun. Mendengar langkah kaki para santri yang pergi ke langgar, dia hanya bisa terduduk lemas di pojok ruangan. Matanya berkunang, mukanya pucat, rambutnya berantakan. Dia teringat kepada Darsih, wanita yang ia tiduri beberapa hari lalu. Dibayangkan olehnya tubuh tua yang tidak lagi kencang. Hasratnya tetap muncul sekalipun selangkangannya masih gatal dan terus mengeluarkan nanah. Namun, dalam hatinya mulai muncul penyesalan yang mendalam. Gara-gara menidurinya, ia harus menderita sakit yang tidak tertahan.

“Kang.” Jebul kembali dari lamunannya. “Sarapan dulu, Kang. Perutmu perlu diisi. Nanti sehabis ngajar ngaji, aku antar ke rumah sakit,” ajak Kiai Dullah. “Kondisimu harus diperiksakan.”

Jebul menggeleng.

“Terima kasih Kiai telah menolongku.”

“Sudah kewajibanku, Kang,” jawab Kiai Dullah.

“Kalau begitu, mending Sampean salat Subuh dulu. Tayamumlah, Kang”

Arsip Cerpen di Indonesia