Ritual yang Tepat untuk Toto Gelap

Hingga suatu siang, telepon di rumahnya berdering. Mukidi tergopoh. Ditinggalkannya mesin jahit seraya menyongsong gagang telepon sebelum deringnya berhenti.

“Dengan penjahit Mukidi di sini. Ada yang bisa saya bantu?”

“Ini aku, mas.”

“Marni! Lama sekali tak berkabar!” pekik Mukidi kaget. Namun, sejurus kemudian, suaranya melunak. “Kebangetan kamu tidak berkabar padaku!” senyum genit terbit dari bibirnya.

“Ini aku berkabar, mas.” Jawab Marni singkat, “Aku mau kasih tahu kalau lebaran tahun ini, aku belum bisa pulang.”

“Yang benar saja!” pekik Mukidi kaget, “Marni, kamu sudah empat tahun lho gak pulang. Pulanglah. Usahakan tahun ini. Apa lagi yang kamu kejar? Kontrak kerjamu habis lebaran tahun ini bukan?” air muka Mukidi perlahan mengalir dari genit, kaget, lantas menuju kecewa.

“Majikan di sini tak bisa kutinggal mas, sudah tua dan anak cucunya tak ada yang mau merawat. Mereka hanya menyediakan biaya hidup untuk orangtuanya, dan gaji untukku. Akhir bulan depan kukirim uang, sedikit lebih banyak dari bulan sebelumnya.”

“Kamu sudah sering bilang itu, Ma—Marni!“

Telepon terputus. Mukidi menggeleng. Dengan langkah gontai ia melenggang lagi ke mesin jahit. Hatinya gusar. Kebimbangan menyelimuti perasaannya. Biarpun dikontrak empat tahun, istrinya pernah bilang kalau tiap tahun majikannya menyediakan cuti agar bisa berkumpul dengan keluarga, tapi Marni sekalipun tak pernah pulang. Padahal, empat tahun belakangan adalah kali ketiga Marni berangkat lagi menjadi TKI. Istri Mukidi itu tak pernah betah berlama-lama di rumah.

Seiring berjalannya waktu angka-angka togel di pikiran Mukidi kian rumit dan berloncatan ke sana ke mari. Belum lagi istrinya yang tak akan pulang tahun ini melengkapi kerumitan hari-harinya. Biar dihitung dengan berbagai rumus dan tafsiran mimpi, keberuntungan dari angka togel belum pernah berpihak padanya. Kadang, ia beruntung jika memasang angka dengan nilai uang kecil. Namun, tiap kali niat memasang angka dengan nilai uang besar, keberuntungan enggan mampir sama sekali. Bahkan segala cara sudah ia tempuh untuk mendapatkan wangsit angka jitu untuk pasang togel seperti ; menepi di tempat keramat saat tengah malam—tentu dengan membakar kemenyan, sampai ritual menggosok telur ayam kampung menggunakan abu bekas pembakaran—agar di cangkang telurnya nanti keluar angka samar-samar. Namun, Mukidi belum pernah mencoba cara yang kata orang-orang paling jitu, dan sepertinya belum pernah ada yang berani mencobanya. Cara yang paling tabu, paling menjijikan, sehingga kurang pantas bila dikatakan.

***

Arsip Cerpen di Indonesia