“Sudah, Pak, ndak usah diurus. Yang penting kambing bunting sampean ndak hilang, pun dengan kambing yang lain. Aman. Lagian, itu saudara sampean sendiri, dan dia kan agak—” omongan salah satu peronda itu terjeda, kemudian menyilangkan jari telunjuk di keningnya sendiri.
***
Beberapa purnama berlalu, Mukidi masih sering berkeliling kampung dengan linglung. Kali ini, kadang pakaiannya berganti dua hari sekali. Dan badanya lebih kurus dari sebelumnya. Yanto mungkin juga sudah melupakan kejadian tempo hari. Sekarang, ia lebih memperhatikan kambingnya yang baru saja melahirkan.
Di kampung, obrolan orang-orang sudah tak lagi mengarah pada kelakuan Mukidi yang separah-parahnya orang edan itu. Akan tetapi, mereka sering berkata lain ketika melihat Yanto menggembala kambing-kambingnya,
“Bisa jadi, Mukidi ikut andil atas cempe itu. Atau malah darah dagingnya!” dan tawa mereka tertahan.
Jogja, Mei 2017-Januari 2019
Mahfud Ridwan. Lahir di Lumajang, 22 Februari 1993. Mukim di Bantul, Yogyakarta. Aktif di Kelompok Literasi Musim Laron Yogyakarta. Buku puisi yang telah terbit, Sebuah Hari untuk Tidak Merayakan Apa-apa (Gambang, 2018)