Ritual yang Tepat untuk Toto Gelap

Gosip hangat soal istri Mukidi itu jadi pembicaraan yang ramai di kampung selama berhari-hari, berminggu-minggu, sampai akhirnya reda dengan sendirinya bersama siang dan malam yang begitu-begitu saja. Dan bertepatan malam purnama yang jatuh di akhir bulan, Yanto, lari tergopoh-gopoh dari kandang kambingnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia menuju pos kamling, bicaranya terpenggal-penggal.

“Ka-ka-kambingku!”

“Wedhusnya kenapa pak Yanto?” tanya salah satu orang yang meronda, “Wedhusnya hilang?”

“Ti-ti-tidak,” nafasnya yang tersengal-sengal masih belum reda. “Ta-ta-tadi, aku hendak menengok ka-ka-kambingku yang ribut. Me-me-mereka jarang ribut kalau malam, tapi malam ini ribut sekali. Aku khawatir ada maling!”

“Terus?”

“Nah, set-set-sete-lah aku ke kandang dan mennyalakan senter, ku-ku-kulihat salah satu kambingku yang bunting sedang dikangkangi dari belakang dan digoyang-goyang sama seseorang. Pas kuteriaki Maling, dia lantas melarikan diri. Pas tak kejar, udah hilang ke semak-semak. Langsung aku menuju ke sini.” Nafas Yanto belum reda juga, malah keringat sebesar biji jagung kini banyak tumbuh di keningnya.

“Ya sudah, pak, kita balik ke kandang saja sekarang!”

Setelah beberapa kali memukul kentongan tanda bahaya, lima orang termasuk Yanto bergegas menuju kandang. Warga lain bergegas pula keluar dari rumah masing-masing, penasaran dengan apa yang terjadi dengan perasaan waspada.

“Lari ke mana orangnya, pak?”

“Tadi ke semak-semak belakang sana,”

Tiba-tiba seorang yang lain menuju Yanto dan membawa sesuatu, “Barangkali ini celana yang tadi ngawini wedhus sampean, pak!”

Yanto terdiam, ia seperti tak asing dengan celana itu, tapi belum bisa memastikan apa yang ia lihat. Warga lain sudah ramai saja di sekitar kandang, mereka penasaran dan tetap waspada. Tiba-tiba salah satu anak tetangga Yanto berbicara pada bapaknya,

“Itu kan celana orang gila itu, Yah. Dia selalu pakai celana itu, ndak pernah ganti,” ucapnya polos.

“Mukidi, edan! Jelas niat dia ngawini wedhusku biar dapat wangsit buat pasang angka togel! Dobol tenan, Jan-cuk!” seketika kediaman Yanto buyar, seluruh mukanya memerah. “Dia kira dengan ngawini kambing bunting lantas sprema yang keluar langsung menunjukkan angka togel! Musryik! Cuih!”

Mukidi benar-benar melakukan ritual mencari wangsit angka togel dengan cara yang paling gila dan menjijikan itu!  Orang-orang ribut. Pembicaraan mereka menyiratkan keheranan, ada juga yang kasihan, dan sebagian lagi ingin menertawakan. “Mukidi rupanya sudah benar-benar kurang belaian.” Desah mereka. Betapa mengerikannya menjalani masa tua dengan tempat tinggal mewah, harta seolah berlimpah, tapi tanpa kelengkapan—anak dan istri—keluarga.

Arsip Cerpen di Indonesia