Beberapa saudara Mukidi iba melihat kehidupannya yang begitu-begitu saja. Salah satunya Yanto, anak dari almarhum kakak Mukidi. Yanto heran dengan kehidupan adik ayahnya yang serba cukup itu. Jelas rumah Mukidi sudah lebih mentereng ketimbang para tetangganya, dan seharusnya ia makmur dengan apa yang diperoleh sekarang. Namun kenyataannya berbanding terbalik dengan fisik Mukidi yang kurus tak karuan itu! Hal ini mendorong keinginan dalam hati Yanto untuk berkunjung ke rumah Mukidi. Pun ada yang harus Yanto sampaikan pada saudaranya mengenai apa yang mengganggu pendengaran dan perasaannya belakangan ini.
“Bagaimana kabarmu, Lik?”
“Ya begini-begini saja, Jahitan banyak.” Jawab Mukidi sambil mempersilakan saudaranya duduk. “Tumben mampir?”
“Aku pulang dari pesisir, nengok kebun buah naga. Lumayan, sudah mulai berbunga. Beberapa bulan lagi bisa dipanen.”
“Syukurlah!”
“Begini, Lik, kedatanganku kemari juga hendak menyampaikan sebuah kabar.”
“Apa itu?” lantas Mukidi sedikit membungkukkan badannya, pertanda siap mendengar.
“Lik harus lebih sering berkabar dengan bulik Marni.” Ucap Yanto membuka pembicaraan, “kemarin, aku mendengar omongan tetangga yang baru pulang dari Taiwan. Itu, Yu Wagirah, belakang rumahku. Katanya bulik Marni ada main serong dengan anak majikannya. Tapi Lik tak usah memastikan ke Yu Wagirah, dia tak akan tega memberitahu langsung, atau mungkin dia tidak akan memberi jawaban.”
“Lha mosok?!” Seketika badan Mukidi tegak. Biji matanya yang seperti hendak keluar itu makin ingin keluar karena terbelalak. Kaget.
“Aku juga tak habis pikir, Lik,” kata Yanto heran, serta berusaha mengimbangi saudaranya yang berubah tegang.
“Pantas saja dia bilang kalau tak bisa pulang lebaran tahun ini.” Suara Mukidi melunak, lemas, tapi amarahnya tertahan.
Ada jeda sebentar di antara mereka sebelum akhirnya Yanto memutuskan pamit undur diri.
“Ya sudah, itu saja, aku masih harus memberi makan kambing di rumah, sekalian tadi di kebun aku mengarit daun buat pakan.”
Mukidi mempersilakan saudaranya dengan mengantar sampai teras. Tubuhnya yang kurus itu kian bias dengan air mukanya yang nampak tidak menentu atas apa yang ia dengar barusan.
***