Semenjak kabar itu, Mukidi makin jarang makan. Bila biasanya ia makan dua kali sehari. Kini ia makan satu kali sehari. Mesin jahit sudah tak akrab dengannya. Pesanan baju tetangga sudah banyak yang ia campakkan. Kawan-kawan sepermainan togelnya pun tak pernah lagi ke rumahnya. Ia selalu tak peduli kala ada yang berkunjung. Ngobrol pun seperlunya.
Sepanjang hari kerjaan Mukidi hanya duduk di dekat telepon. Tiap satu jam ia menghubungi istrinya, tapi kabar tak kunjung didapat. Istri tak kunjung memberi jawab.
Taiwan adalah yang saat ini terngiang di kepala Mukidi. Kian hari wajahnya memucat, bibirnya kering dan air mukanya tak tenang. Pertanyaan-pertanyaan mengenai ketidakpulangan istrinya menghujam kepala Mukidi bertubi-tubi tanpa jawaban pasti. Walaupun dalam hatinya ia sangat ingin menyusul ke Taiwan, tapi bila mengetahui bahwa untuk bisa ke sana harus dengan paspor dan segala tetek bengek, dan tentu pengurusnya membutuhkan waktu itu, Mukidi memilih mengurungkan niatnya. Toh sebenarnya hanya rumahnya saja yang mewah. Uang, Mukidi tak ada, habis dipakai judi. Terbesit juga di benaknya keinginan untuk mencoba cara mendapat wangsit angka togel dengan cara yang katanya paling jitu dan hasilnya juga jitu itu! namun hatinya berkata ; ragu-ragu!
Ia sudah antara sanggup dan tidak sanggup memikirkan kesepiannya selama—empat tahun—ini. Kesepian dalam arti sebenar-benarnya suami yang ditinggal istrinya merantau. Kesepian karena tak ada teman tidur, tak ada yang menyiapkan makanan di dapur, kesepian lahir maupun batin, serta kesepian dompetnya yang lantaran tak kunjung menang togel! Dan kesepian yang lain, kesepian biologis sebagai manusia pada umumnya, yang ingin menuntaskan syahwat kepada orang yang dicintai, istri sahnya. Segala yang Mukidi alami seperti hendak membuat dirinya gila.
***
Tiap malam, ia kerap berkunjung ke rumah Yanto, tapi Yanto juga tak bisa membantu apa-apa. Karena itu pula, Mukidi jadi sering keluar rumah malam hari beberapa waktu belakangan, dan tak pernah tahu ke mana kakinya melangkah, ke mana langkahnya menampung kalah.
Mukidi yang linglung itu sering dijumpai tetangga tengah murung dan berjalan menundukkan kepala. Orang kampung banyak menyebut Mukidi gila, edan! Ia juga tak pernah membersihkan diri. Ibu-ibu banyak membahasnya di tempat mereka berbelanja sayur, sambil sering mengucap “Amit-amit jabang bayi! Ya gitu, kalau suka judi, di luar negeri istrinya kawin lagi!” obrolan bapak-bapak di pos kamling pun tak jauh beda dengan topik yang dibahas para istri mereka.
***