Pulang ke China

Tentu, kini siapa pun tahu kalau tujuan sesungguhnya dari PP-10 yang didukung oleh hampir semua parpol kecuali PKI itu bukanlah untuk menyelamatkan perekonomian nasional seperti yang didengung-dengungkan, tetapi semata-mata hanya untuk menghancurkan bisnis orang-orang Tionghoa di Indonesia.

“Haji-haji itu kan kalah bersaing dengan para pedagang Tionghoa. Sadar kalau mereka tak mampu menandingi orang-orang kita yang ulet dan berpengalaman dengan jaringan yang telah terbentuk sejak era kolonial, mereka membuat aturan macam-macam lewat orang-orang mereka di pemerintahan,” Papa menimpali ayahnya. “Yang paling diuntungkan ya haji-haji itu!”

PP-10 diberlakukan sejak 1 Januari 1960 secara serentak di seluruh wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kendati cuma Sungailiat sebagai ibukota kabupaten dan Pangkalpinang sebagai kotamadya yang memenuhi syarat, namun di Bangka—kata ayahku—tidaklah terjadi pengusiran orang-orang Tionghoa dari rumahnya.

Konon, hal ini lantaran orang Tionghoa di Bangka jumlahnya terlalu banyak. Lebih dari 40% dari jumlah seluruh penduduk. Apalagi tak seperti daerah lainnya di Indonesia, kebanyakan mereka justru tersebar luas di perdesaan menjadi petani, nelayan, penambang, peternak, tukang rumput, buruh harian. Baik di perkampungan-perkampungan Tionghoa maupun membaur di perkampungan Melayu. Sebagian besar dari mereka adalah peranakan, namun banyak juga yang totok. Dengan begitu, bisa dibayangkan betapa sulitnya larangan tinggal diberlakukan. Kericuhan besar pasti takkan terhindarkan.

Ya, karena itulah pemerintah setempat hanya bisa mengeluarkan seruan kepada para pedagang Tionghoa di kota-kota kecamatan agar segera menutup toko-toko mereka. Toh, ini pun sudah membuat suasana menjadi kacau balau. Kecemasan meluas sampai ke pelosok-pelosok desa. Tentu saja yang paling panik adalah para taoke pemilik toko di Belinyu, Muntok, Jebus, Toboali…

“Si A Fat sampai menggunting ujung telinga pelanggannya ketika mendengar adanya seruan itu dari obrolan di kios cukurnya,” Papa menyeringai lebar.

“Hahaha,” Akong terbahak, “Istri Lim Jun Min malah lebih parah lagi. Sampai membuang dompet di tangannya karena terburu-buru pulang dari pasar!”

Aku cuma menyimak dan ikut tertawa.

Ya, kepanikan itu kemudian kian meluas tatkala berita tentang pengusiran orang-orang Tionghoa dengan kekerasan oleh tentara di Cimahi tersebar cepat melalui sejumlah surat kabar dan siaran radio.

Arsip Cerpen di Indonesia