“Para tentara itu melemparkan ratusan orang—lelaki, perempuan, anak-anak—ke atas truk dan membawa mereka ke kamp-kamp yang dibangun tergesa-gesa. Di banyak daerah, orang-orang Tionghoa yang panik dan ketakutan mengungsi ke kota membawa apa saja saja yang bisa dibawa. Dan di sana, mereka terlunta-lunta tanpa tempat tinggal karena tidak punya sanak famili,” tutur Akong.
Di Bangka, meskipun keadaan terbukti relatif aman dan terkendali, namun tetap saja orang-orang Tionghoa merasa was-was dan mengambil sikap waspada.
“Setiap malam kaum lelaki, tua-muda, berjaga-jaga membekal senjata apa saja. Tongkat, parang, pisau daging, cangkul, garpu rumput. Tanya saja papamu. Ia dan pamanmu juga ikut berjaga malam,” lanjut kakekku.
“Kala itu kita sudah bertekad untuk mempertahankan diri habis-habisan seandainya dipaksa meninggalkan ruko atau menyerahkan barang-barang dagangan kepada koperasi,” ia menghela napas berat.
***
PENERAPAN PP-10 yang kemudian diikuti oleh beragam tindakan kekerasan terhadap orang Tionghoa itu seketika mendapatkan kecaman keras dari Pemerintah Republik Rakyat China. Setelah usaha sia-sia yang ditempuh oleh Duta Besar Huang Chen untuk mendesak peninjauan kembali peraturan tersebut ditolak, Pemerintah China pun berang dan menyerukan ajakan kepada semua warga China Perantauan untuk kembali ke “kehangatan ibu pertiwi” lewat siaran Radio Peking. Alhasil mereka yang menjadi korban PP-10 pun, juga banyak pemuda dan kaum terpelajar, menyambut ajakan itu dengan gembira dan penuh semangat. Ribuan warga Tionghoa—totok maupun peranakan—segera mendaftarkan diri ke Kedubes RRC di Jakarta. Ya, baik secara langsung ataupun melalui perwakilan. Konon, jumlahnya melebihi 130.000 jiwa.
“Seruan ‘Con Kwet’ bergaung di mana-mana, di kota maupun desa. Apalagi ketika kapal-kapal dari China mulai berdatangan untuk mengangkut mereka yang telah terdaftar,” kata Papa, lalu sambil menoleh padaku dan tersenyum ia melanjutkan, “Kau tahu, orang-orang di sini bahkan membuat lagu tentang kepulangan ke China itu.”
Namun ketika aku menanyakan seperti apa lagu tersebut, ayahku mengaku bahwa ia sudah lupa. Ia hanya mengingat satu baris saja yang berbunyi, “Ta Buntu song nan”. Yang artinya “Bertolak dari Muntok”. Maksudnya dari pelabuhan Muntok di Bangka Barat.
Aku pernah melihat foto lama hitam-putih salah satu kapal yang dikirim oleh Pemerintah RRC, juga foto-foto warga Tionghoa Indonesia yang mendarat di sejumlah pelabuhan di China Daratan. Seorang teman dari Tiongkok yang mengirimkannya kepadaku lewat email.