Pulang ke China

Kapal besar berlambung hitam dalam foto itu bernama Guanghua. Kapal buatan Inggris. Ia merupakan kapal penumpang pertama yang berlayar ke lautan lepas di bawah bendera lima bintang. Dan pelayaran pertamanya adalah menjemput warga Tionghoa yang mengungsi dari kengerian pelaksanaan PP-10 di Indonesia. Guanghua merapat di Tanjung Priok, Jakarta pada 3 Mei 1961 dan mengangkut lebih dari 1.500 orang Tionghoa ke Pelabuhan Huangpu, China.

“Waktu itu, semua orang merasa terhormat dijemput oleh kapal yang dikirim langsung dari China,” ujar Akong. Namun begitu, sebagian kecil dari warga Tionghoa yang memutuskan untuk pergi dari Indonesia toh memilih Taiwan sebagai tempat kepulangan meskipun pulau itu bukanlah kampung halaman atau tanah leluhur mereka. Ya, mereka adalah para pengikut setia Kuo Min Tang atau yang takut pada komunisme. Adik ketiga kakekku termasuk di dalamnya…

Seorang teman—gadis Tionghoa yang kedua orangtuanya berasal dari Bangka dan sempat berkuliah di China Daratan—belum begitu lama berselang juga bercerita kepadaku bahwa kakeknya adalah orang yang ditunjuk untuk mendaftarkan orang-orang Tionghoa di kota kecilku yang hendak pulang ke Tiongkok.

“Beliau waktu itu dituduh mendahulukan orang-orang kaya daripada mereka yang kurang mampu, dan tentu saja dituduh menerima uang suap. Padahal, kau tahu, bukanlah pekerjaan gampang mendaftarkan sekian banyak orang,” tulisnya dalam chatting kami di aplikasi Messenger.

Hubungan RRC dan Indonesia pun kian memanas. Konsulat RRC di Selat Panjang dan Samarinda diusir.

“Tapi Soekarno yang awalnya tidak berbuat apa-apa akhirnya turun tangan ketika dua perempuan Tionghoa ditembak mati di Cimahi karena melawan pengusiran. Ia memindahkan kolonel yang bertanggungjawab atas penembakan itu ke Sumatera. Sumatera mana aku tidak tahu,” kata kakekku selanjutnya.

“Bukannya karena ia ketakutan setelah melihat dampak yang ditimbulkan PP-10 terhadap perekonomian Indonesia?” ayahku menimpali dengan sinis,  “Haji-haji itu nyatanya tidak becus, cuma besar nafsu saja kan? Daerah-daerah pedalaman yang ditinggalkan oleh para pedagang kita jadi kacau-balau. Barang-barang kebutuhan sehari-hari jadi langka dan melambung tinggi. Hasil pertanian menumpuk dan membusuk, tak bisa dipasarkan! Hahaha!”

Kakekku tidak ikut tertawa, hanya menghisap dalam-dalam rokok yang sudah pendek di sela-sela jarinya.

Arsip Cerpen di Indonesia