Pulang ke China

Syahdan kemudian terjadilah kesepakatan antara Jakarta dan Peking. Penerapan PP-10 dibatalkan dan Pemerintah China berhenti mengirimkan kapal untuk mengangkut orang-orang Tionghoa kembali ke Tiongkok.

“Jika pengiriman kapal itu tidak dihentikan, kita sudah tidak di sini lagi,” desah Akong setelah menghembuskan asap rokoknya. Papa menoleh lagi sekilas padaku lalu membenarkan. Tentu saja aku tahu, kalau Akong jadi memboyong seluruh keluarganya pulang ke Tiongkok, ayah dan ibuku tidak akan pernah bertemu lalu menikah, dan aku tidak pernah lahir. Terdengar suara tokek yang nyaring entah dari tempat persembunyiannya di mana. Papa lantas mencoba membelokkan sedikit arah pembicaraan, “Eh, kalian tahu kenapa si A Hon bisa gila?”

“Si Khong Hon yang suka ditanyai nomor lotere itu?” tanya Mama yang baru keluar dari dalam kamar, “Kata orang karena ia sudah menjual rumah beserta seluruh harta benda dan mengirimkan semua uangnya ke sanak-saudaranya di China tapi tidak jadi pulang ya?”

“Itulah contoh orang bodoh. Keluarganya di Tiongkok juga jahat,” guman Akong lemah.[]

 

Bangka-Yogyakarta, Ramadan 2019

 

Catatan:

*) Cerita ini merupakan kelanjutan dari kisah “Memoar Pulau Timah.”

  1. Taipei Hakka Affairs Commission atau 台北市政府客家事務委員會(Taibei Shi Zhengfu Kejia Shiwu Weiyuanhui) adalah sebuah komite urusan Hakka di bawah Pemerintah Kota Taipei yang beralamat di Daan District, Taipei, Taiwan.
  2. Saya terjemahkan dari 歸國證明書 (Guiguo Zhengming Shu) atau Certificat de Rapatriement.
  3. Con Kwet (bahasa Hakka) atau Gui Guo (Mandarin) secara harfiah artinya “Pulang Negara”. Tetapi terjemahan yang sahih untuk ini adalah “Kembali ke Tiongkok”.
Arsip Cerpen di Indonesia