Potret Pengemis

“Murtopo? Murtopo yang pelukis itu? Pelukis yang melulu melukis pengemis?”

“Lho?”

“Siapa tak kenal Murtopo di kota ini, Mas. Dia pahlawan bagi kami. Tak ada tokoh yang paling dibanggakan selain Murtopo. Dia mengharumkan nama Kota Owah sampai ke luar negeri. Konon, dia juga yang paling rajin menyumbang untuk pembangunan. Dia panutan di kota ini, Mas. Di sini, ada banyak bayi yang lahir diberi nama Murtopo.”

“Anak saya juga saya namai Murtopo agar bisa tangguh dan ampuh seperti dia.” Timpal ibu pemilik warung kopi yang dari tadi tampak seperti memejamkan mata.

“Sialan Murtopo!” batin Dadang sedikit iri. Diteguknya sisa kopi sampai habis.

“Sumpahnya itu lho, Mas, yang sangat terkenal. Anak-anak kecil juga menghafalnya sambil bermimpi bisa seberani itu.”

“Sumpah? Murtopo punya sumpah?!” Dadang tak jadi menyulut rokok.

“Mas ini benar kawannya? Masa, tidak tahu. Sumpah yang ini,” Ari mendadak berdiri di atas kursi, ibu pemilik warung juga ikut berdiri, mereka mengangkat tangan kiri, serempak berkata. ”Sekali pergi meninggalkan kampung halaman pantang pulang sebelum mati.”

Dadang terbengong-bengong. Sampai dia lupa mengabadikan momen ajaib tersebut. Peristiwa yang mungkin hanya akan terjadi di Kota Owah. Tidak mungkin ada di kota-kota lainnya. Bahkan di seluruh kota negeri adil dan makmur ini.

Di penginapan Dadang tak bisa tidur. Dari jendela kamar di lantai 3 itu, ia mengintip sebagian kota dalam selimut kabut. Di bawah bayang gedung-gedung tinggi yang dihias lampu warna-warni, Kota Owah tampak tenteram dalam benderang lampu-lampu yang tersebar penuh warna. Di sebagian tempat, lampu seperti rumpun-rumpun pelangi. Bentangan jalan tak kalah semarak cahaya. Kota yang megah dalam selimut kabut.

Telepon genggam bergetar, berdering di atas ranjang. Dyah. Istrinya.

“Sudah sampai?”

“Sudah, Sayang. Ini di penginapan.”

“Jangan lama-lama.”

“Lho, baru juga sampai.”

“Ini meronta-ronta terus. Mules-mules. Sepertinya ingin segera lahir.”

“Kata dokter kan seminggu lagi.”

“Dokter kan bukan Tuhan. Aku takut. Aku kangen.”

“Tenang. Sehari juga beres, kok. Ini kerjaan gampang. Besok malam juga pulang.”

Arsip Cerpen di Indonesia