Potret Pengemis

“Mana musim pengemis? Pesta pengemis? Yang ada hanya gambar-gambar sampah!” bentaknya sambil menuding ke arah baliho sepanjang jalan, lantas dengan kasar menunjukkan potret-potret dalam kamera.

Ari tak melepas senyuman.

“Masa sampah, Mas. Mereka orang-orang yang patut dikasihani, Mas. Mengemis suara dengan menjajakan kegagahan dan kekayaan. Mereka tak punya pekerjaan seperti kami. Mereka mengemis kerja pada kami. Kami di sini, di Kota Owah, kasihan sekali kepada mereka. Sudah semestinya Murtopo melukis mereka. Salam buat Murtopo. Katakan kami ingin seberani dan setangguh Murtopo.”

Dadang tergagap. Limbung. Melihat sekeliling. Menarik napas panjang. Naik motor. Minta diantar ke penginapan.

Malam. Dalam kabut. Dalam Stasiun Owah yang ungu. Dadang duduk murung di peron memangku laptop. Baru saja selesai mengirim e-mail ratusan potret gambar caleg yang tadi ia bidik dengan gila. Kereta datang. Lekas berkemas. Dering telepon. Kabar Dyah melahirkan bayi lelaki dengan selamat. Berbinar. Hampir bersorak. Mengucap syukur. SMS masuk. Murtopo. Berdebar. Pasrah. Dibaca. Uedaaaaan, Dang! Dadang bangkit. Berjalan memasuki kereta dengan wajah yang bercahaya, mirip wajah orang-orang di Kota Owah. Kereta api berangkat meluncur dari pelukan kabut yang tebal. ***

 

Kedungpanjang, 2018

Toni Lesmana. Tinggal di Ciamis. Gemar menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Buku puisinya, Tamasya Cikaracak, masuk shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017. Buku kumpulan cerpen terakhirnya Tamasya Kota Pernia (2018).

Arsip Cerpen di Indonesia