Dari penginapan Dadang menyusuri trotoar ke arah alun-alun. Trotoar yang bersih. Para petugas kebersihan bekerja menyapu daun. Wajah-wajah yang bercahaya. Anak-anak sekolah berjalan riang sambil bercanda. Para pedagang menyiapkan roda dagangan dengan rapi. Bunga-bunga mekar dalam pot-pot besar sepanjang trotoar. Toko-toko terbuka. Senyum mengembang di mana-mana.
Alun-alun begitu hijau. Selalu ada kabut tipis. Hamparan rumput. Pohonan rimbun di setiap sudut. Patung dan air mancur di beberapa tempat. Bangku-bangku. Burung-burung terbang dan hinggap. Kupu-kupu. Nihil. Tak ada pengemis. Mungkin terlalu pagi. Pedagang bubur tampak sibuk melayani pembeli di bawah sebuah baliho raksasa yang memanjang di seberang alun-alun. Baliho caleg. Sampah di kota yang menawan, batin Dadang.
Matahari meninggi. Dadang keluar dari pasar, mengelap keringat dengan kesal, menatap lalu-lalang orang. Sudah dimasukinya pasar itu dari setiap pintu. Yang ditemuinya hanya para penjual dan pembeli yang penuh kegembiraan. Tak ada sosok tubuh lusuh menyedihkan. Dadang mulai sangsi pada kata-kata Ari. Tak disangka pemuda riang berwajah bayi itu nyata seorang pendusta. Musim pengemis mana? Pesta pengemis apa? Sudah beberapa jam. Beberapa tempat ia susuri. Nihil. Tak ada pengemis. Tak ada sama sekali.
Beberapa kali SMS yang masuk dari Dyah mulai membangkitkan panik. Dadang berjalan cepat menuju arah terminal. Kesibukan kendaraan menyambutnya. Orang-orang berwajah cahaya hilir mudik dalam kegiatannya masing-masing. Rasanya setiap orang sedang bekerja. Tak ada yang berpangku tangan. Tak ada yang duduk lusuh menengadahkan tangan menjajakan kemiskinan. Rumah sakit! Dadang bergerak kembali. Memanggil seorang tukang ojek. Semangatnya bergelora lagi. Namun padam kembali begitu menjejak pelataran parkir bangunan putih memanjang dan bertingkat. Deretan kendaraan, jajaran para pedagang yang rapi. Kerumunan para pengunjung. Yang besuk dan pulang. Wajah-wajah yang sedikit murung dan sedih tanpa menanggalkan cahaya ketenteraman dan kebahagiaan.
Mustahil, batin Dadang. Hampir senja Dadang terduduk murung di bangku alun-alun. Setiap penjuru kota telah dijelajah. Tinggal beberapa jam menuju jadwal yang tertera pada tiket pulang yang sudah ia bayar kemarin. Bagaimana mungkin sebuah kota tanpa kehadiran pengemis. Tiba-tiba ia merasa kesal. Kesal dan gagal. Mungkin karena kameranya belum bekerja sama sekali. Hanya berisi satu potret. Potret baliho.