Potret Pengemis

Murtopo memang sialan! Umpat Dadang sambil melempar tubuh ke ranjang. Murtopo pahlawan Kota Owah. Dadang terkekeh. Edan. Pelukis sableng itu dipuja-puja di kota yang pantang ia injak lagi. Kemarin Murtopo menelepon ingin bertemu. Lagi kumat gairah melukisnya. Murtopo ingin melukis pengemis di kota kelahirannya untuk melengkapi lukisan-lukisan pengemis yang akan dipamerkan dalam pameran tunggalnya di luar negeri. Baru Dadang mengerti kenapa dia tidak pergi sendiri ke kota ini. Dia termakan sumpah sendiri. Tapi, di sisi lain, ini rezeki bagi Dadang yang kelabakan menghadapi kelahiran anak pertamanya. Sama-sama membutuhkan. Yang jadi sialan itu ya Murtopo ingin hari itu juga Dadang berangkat. Seperti tak peduli cerita Dadang tentang kondisi Dyah yang menanti hari melahirkan. Murtopo memang tak pernah menikah. Mana dia tahu kecemasan calon bapak. Dadang akhirnya menurut setelah segepok uang dilempar Murtopo ke udara. Segepok uang yang lekas ditangkap dan dipeluk oleh Dadang.

Hati Dadang sedikit tenang teringat celoteh Ari tentang musim pengemis, bahkan pesta pengemis, yang sedang berlangsung di kota ini. Hal yang mustahil baginya. Apalagi di kota demikian asri dan menawan. Memang di kota mana pun pengemis selalu hadir seperti warna abadi. Barangkali ini yang membuat Murtopo begitu terobsesi pada pengemis. Tapi, bagaimana mungkin pengemis dipestakan. Dalam pikirannya, terlintas cerita tentang partai pengemis dalam buku-buku silat yang pernah dibacanya. Terkekeh. Lekas meraih kamera, setidaknya kerjaan akan lebih ringan. Sehari juga akan kelar. Tinggal jepret sana jepret sini. Beres. Setelah memeriksa kamera, Dadang lelap berlayar ke alam mimpi. Di jendela yang masih gordennya terbuka, kabut menebal.

Pagi hari, saat matahari menerobos kabut Kota Owah, Dadang sudah siap. Ia ingin lekas menyelesaikan pekerjaannya dan pulang. Mimpi yang menyusup dalam tidurnya begitu buruk. Sangat buruk. Ia bermimpi Dyah melahirkan seorang pengemis.

Berbekal kamera, Dadang berencana menyusuri kota dengan jalan kaki. Kota Owah ini kota kecil. Semalam sebelum mengantar ke penginapan, Ari sempat mengajaknya berputar-putar di sekitar kota. Dadang juga tak lupa minta nomor telepon Ari untuk jaga-jaga.

Di parkiran penginapan, seorang bapak sedang menyapu. Wajahnya bercahaya. Cahaya kegembiraan. Cahaya yang juga dia temukan pada wajah Ari dan ibu pemilik warung kopi. Tergoda untuk mencoba kamera, Dadang mengarahkan lensa untuk membidik. Tiba-tiba bapak itu menoleh, tersenyum. Dadang tak enak hati, segera ia palingkan kamera ke arah jalanan. Membentur baliho gambar caleg. Wajah yang gagah memelas. Sampah! Rutuknya. Kadung dibidik baliho itu diabadikannya juga.

Arsip Cerpen di Indonesia