Potret Pengemis

SMS dari Dyah. Mas, aku sudah di rumah sakit. Sendiri. Makin panik. Malah teringat Ari. Lekas mengirim SMS. Pemuda itu mesti mempertanggungjawabkan kata-katanya. Kabut tipis masih membayang di udara. Dadang merasa berada dalam sebuah lingkaran kebohongan. Kebohongan sebuah kota yang demikian tenteram mirip dalam dongeng. Kebohongan dari orang-orang berwajah cahaya. Kebohongan Ari.

Kepanikan membuat Dadang makin kesal. Ia melempar pandang ke atas. Ke arah baliho besar. Kamera yang berjam-jam hanya menggantung mulai dibidikkan dengan marah. Baliho caleg. Dilempar ke arah lain. Sama saja. Gambar-gambar caleg tegak berjajar di udara, dalam berbagai bahan dan ukuran, sepanjang jalan. Jepret. Jepret. Seperti kesurupan Dadang membidik semua gambar caleg yang tampak. Mungkin gara-gara berjam-jam Dadang memandang lurus dan menunduk mencari pengemis tanpa hasil. Kemarahan ia ledakkan pada karnaval gambar caleg yang ternyata begitu meruah di mana-mana. Tanpa sadar ia berjalan mengejar setiap gambar wajah yang lengkap dengan atribut partai. Dadang hampir berlari mengejar setiap gambar. Tak memedulikan dering telepon yang tak henti-henti.

Di depan pagar sebuah gedung ia bersandar kelelahan. Seorang pejalan dengan ramah menawarinya minuman. Dadang melongo mirip orang bego. Dering telepon genggam menyusup dalam kesadarannya.

“Mas Dadang di mana? Saya dari tadi di alun-alun!” suara Ari yang riang.

“Di pesta pengemis!” kesal Dadang menjawab pendek.

“Wah, kalau begitu bisa di mana saja. Mesti ke mana saya menjemput?” Suara Ari bercampur tawa.

“Saya di depan gedung yang tiang benderanya berwarna keemasan, sebesar pohon palem, setinggi kubah masjid.”

“Wah, itu pusat pesta pengemis, Mas. Sebentar saya meluncur.”

Dadang penasaran mengintip ke arah gedung. Terpampang nama dengan huruf-huruf yang megah dan pongah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Owah. Sepi. Satu-satunya bangunan yang tak menerbitkan cahaya kegembiraan. Cahaya khas Kota Owah. Cahaya yang menyebar dan memijar di wajah orang-orang. Cahaya dalam selubung kabut tipis.

Ari datang tepat saat Dadang berbalik. Matanya kontan melotot. Kemarahan meledak.

Arsip Cerpen di Indonesia