Tante Andini mendesah malas. “Ia laki-laki yang tak punya rasa lelah, dan rasa malu. Sepanjang malam selalu minta terus. Aku benci laki-laki yang tak mau rugi seperti itu!”
“Tapi kenapa… dengan lem?”
“Kupikir dengan lem, aman saja. Aku sama sekali tak menyangka kalau lem tikus itu… super lengketnya…”
Sersan Birro hanya menyembunyikan senyumnya diam-diam.
Sejak kejadian itulah Tante Andini harus kehilangan sebagian masa-masa emasnya. Karena saat bebas, ia sudah tak lagi laku. Telah banyak pelacur yang lebih muda dan lebih cantik.
Maka ia pun memilih membuat losmen kecil ini. Toh, tabungannya masih cukup lumayan, walau sebagian tetap harus ditutup dari utang bank.
Satu penyakitnya yang tak diketahui orang adalah ia gemar mengintip orang-orang bercinta. Dari penyelidikan, diketahui kalau ia membuat sebuah lubang di setiap kamar yang disewakannya. Tapi tentu sekarang ia membantah. “Sudah hampir 5 tahun aku tak lagi mengintip,” tambahnya.
Saat diberi pertanyaan siapa yang kira-kira tega membunuh Kristal, ia menjawab cepat, “Sudah tentu pembunuh itu adalah tamu langganannya. Ia laki-laki yang mengerikan. Aku pernah melihat beberapa kali, dan aku tahu ia psikopat yang suka menyiksa.”
“Suka menyiksa?” tanya Kapten Arindo. “Dari mana Tante tahu? Bukankah Tante bilang tadi, sudah 5 tahun tak lagi mengintip?”
Ia mendengus, “Tak perlu mengintip untuk tahu itu. Dari melihat wajahnya saja, aku bisa tahu!”
“Kalau tak percaya, kalian bisa tanyakan pada Tinuk! Dia sahabat Kristal!” tambahnya.