“Ya, betul. Kami bahkan berencana pindah. Tapi kami belum menemukan kontrakan yang semurah ini.”
“Kalian ada masalah dengan penghuni lainnya? Atau… kalian melihat penghuni lainnya punya masalah dengan korban?”
Keduanya kompak menggeleng.
Carlos
Ia adalah tamu Kristal terakhir. Satu-satunya orang di luar penghuni losmen yang didatangi Kapten Arindo dan Sersan Birro. Ketika didatangi, ia tak seperti yang digambarkan Tante Andini. Ia hanya pria gempal dengan wajah tak percaya diri. Cara bicaranya pun tampak tak yakin.
Dari catatan kepolisian, ia ternyata punya pengalaman mengerikan. Dulu waktu ia berumur 10 tahun, ibunya yang gila hampir membunuhnya. Ia ditusuk berkali-kali. Untunglah dokter masih bisa menyelamatkannya.
“Apakah kau membenci ibumu?” tanya Kapten Arindo.
Carlos terdiam, “Entahlah. Sejak kejadian itu aku tak bertemu lagi dengannya. Aku diadopsi.”
“Kau tahu…. luka masa kecilmu itu—yang sampai sekarang masih terlihat bekasnya—sama seperti tusukan-tusukan yang ada di tubuh korban?”
Carlos menunduk, dan seketika menangis. “Ya, aku tahu…”
“Tapi aku sama sekali tak membunuhnya,” ujarnya cepat. “Aku mencintainya, dan berkali-kali memintanya keluar dari dunia ini…”
“Kau memintanya keluar dari dunia ini?”
Carlos mengangguk.
“Tapi… korban tak mau?”
“Ia malah memintaku mencari uang yang banyak. Bila sudah, ia baru memintaku datang lagi padanya…”
“Berarti ia menolak?”