Tinuk
Gadis ini baru setahun bergabung di jalanan ini. Ia datang dari desa dengan tubuh kurus kering dan kulit yang gelap karena sering terbakar matahari.
Entah bagaimana ia bisa menjadi sahabat Kristal. Saat diinterogasi, ia menangis tanpa henti. Anehnya, dari matanya sama sekali tak keluar air mata.
“Kristal yang malang…” sedunya berkali-kali. “Ia tak layak mengalami ini. Kalian tahu, ia gadis yang baik. Bila aku sedang tak punya uang, ia yang pertama kali menyodorkan uang untukku.”
Tinuk menunduk, “Aku tak membayangkan ada orang yang bisa melukainya sekejam ini.”
Dari catatan kepolisian, terungkap kalau Tinuk ternyata pernah diduga melakukan tindakan penganiayaan pada suaminya ketika di desa. Ia memukul suaminya dengan pacul, lalu saat suaminya terjerembab, ia tetap memaculinya hingga berkali-kali.
Sersan Birro mengerutkan kening. “Agak aneh… ternyata kau pernah melukai suamimu—maaf, mantan suamimu—dengan pacul hingga 98 kali?”
“Aku tak menghitungnya!”
“Hmmm, kau tahu, ada 99 kali luka di tubuh Kristal?”
“Kubilang tadi, aku tak menghitungnya! Jangan dipas-paskan dengan kejadian ini!”
Saat Kapten Arindo bertanya, siapa kira-kira orang yang dapat melakukan tindakan keji ini kepada Kristal, Tinuk menjawab cepat, “Tentu saja pelacur tak laku itu. Ia selalu sinis pada siapa pun. Dan ia iri dengan kebaikan Kristal.”
Asidah
Dapat dikatakan, Asidah si pelacur tak laku yang disebut Tinuk adalah pelacur tanpa modal. Wajahnya buruk, dan kerjaannya mengritik pemerintah.
“Orang-orang menjadi pelacur di sini karena pemerintah tak becus. Membuat pekerjaan saja mereka tak bisa. Malah mendatangkan buruh-buruh dari China. Dasar pemerintah goblok!”
Tambah Asidah, “Kalau aku dan perempuan-perempuan lainnya melakukan pekerjaan ini, jangan hanya menyalahkan kami, tapi tanyakan pada pemerintah, apa yang sudah mereka lakukan untuk kami?”
Saat penyelidikan, terbuka catatan mengerikan tentang perempuan ini. Ketika muda ia beberapa kali tertangkap tetangganya sedang membunuh kambing. Ia menyiksa kambing-kambing itu dengan menggantung mereka dengan tambang. Lalu setelah itu, barulah ia menikamnya hingga berkali-kali.
“Kambing-kambing itu merusak halaman kami. Memakan sayur-sayuran yang sudah kami tanam!” belanya.
“Kau merasa wajar menyiksa kambing-kambing seperti itu?” tanya Sersan Birro.