“Ia bilang, ‘Kirim saja uangmu untuk istri dan anakmu di desa.’”
“Aaah, korban ternyata memperhatikanmu.”
“Ah, tidak juga. Ia memang baik saja.”
“Kau kenal tamu langganan korban yang sering kemari?” tanya Sersan Birro kemudian.
“Carlos?”
“Ya. Kami dengar, kau pernah bertengkar dengannya?”
“Aku hanya mengingatkannya karena ia sering mabuk.”
“Kau memukulnya?”
“Yaaa, beberapa kali saja.”
“Itu bukan…. karena kau cemburu?”
“Ah, tentu saja tidak. Tidak, tidak!”
“Lalu siapa menurutmu yang tega melakukan itu pada korban?”
“Aku merasa… mungkin, ini mungkin ya, banci di seberang kamar Neng Kristal.”
Mince
Mince satu-satunya banci di sini. Awalnya, catatan tentangnya nyaris tak ada. Tapi setelah dicari dengan identitas sebelumnya, saat ia belum menjadi perempuan, ia ternyata pernah melakukan beberapa tindakan tak masuk akal. Konon, ia pernah mendalami ilmu hitam yang membuatnya harus memakan jantung mayat yang baru saja mati. Untungnya, baru beberapa kali beraksi, tindakannya diketahui. Ia pun sempat dimassa oleh penduduk sekitar.
Menurut Mince, ialah yang paling mengenal penghuni losmen ini. “Karena aku suka mengamati,” ujarnya. “Aku juga yang paling lama di sini. Karena saat Tante Andini membuat losmen ini, aku sudah menetap di sini.”
“Satu yang pasti,” tambahnya, “mereka semua di sini saling membenci. Tante Andini membenci Kristal karena ia cantik. Kristal membenci Tinuk karena ia dianggapnya sering berpura-pura. Jadi, Bapak-bapak jangan tertipu olehnya yang tampak sedih. Ia sebenarnya selalu bermuka dua. Di depan ia selalu tampak dekat dengan Kristal, tapi di belakang ia menusuk. Semua orang tahu, ia sering memotong jalur. Ia menunggu pelanggan Kristal, lalu menawarkan dirinya setengah harga.”
“Boga juga laki-laki bajingan. Ia sangat membenciku. Padahal ia juga sebenarnya banci. Tak berani apa-apa. Bahkan saat ada anak SMU mabuk di sini, ia tak berani mengusirnya. Huh, hanya besar badannya saja.”