Batas
Pemuda ganteng itu tak langsung pergi. Pelan-pelan sepasang sayapnya dilepas dan diletakkan di beranda. Katanya: “Izinkan sejenak aku rehat di sini. Sebelum kembali menghitung pada yang belum dihitung. Mencatat pada yang belum dicatat.”
Aku mengernyit. Teringat tentang kisah para penggoda. Apakah pemuda ganteng itu juga salah satunya? Lalu pemuda ganteng itu tersenyum. Senyum yang begitu indah. Senyum yang seakan menjawab pada yang barusan aku pikir.
“Jangan takut. Aku tak menggoda,” sela pemuda ganteng itu tiba- tiba. Aku kembali mengemyit. Tapi, di luar semuanya, aku melihat sepasang burung mungil turun. Terus beterbangan di atas kepalaku. Beterbangan dengan kicau bersambungan.
Sebelum rebah ke bangku, pemuda ganteng itu mengibaskan rambut ikalnya. Rambut ikal yang sebahu. Dan, akh, beribu kunang-kunang terang pun berhamburan dari rambut itu. Beribu kunang-kunang terang yang hanya hidup di dalam igau anak-anak.
Dan beribu kunang-kunang terang (yang menurut kabar) telah menjentrengkan tubuhnya sepanjang mungkin, bagi siapa saja yang percaya: “Selalu ada jalan lain menuju batas. Jalan yang bukan lagi urusan pikiran dan apa-apa yang dihasilkannya.”
(Gresik, 2018)