Yang Menunggu
: dari Tarub
Datanglah Adik. Seperti dulu. Ketika dari jembatan, kau muncul. Bertopi lebar. Dan tersenyum. Terus melepaskan saputangan. Seperti melepaskan kupu-kupu kuning. Kupu-kupu yang pernah aku baca di komik. Ketika si pendekar (tokoh di komik) mematahkan pedangnya. Lalu menunjuk pucuk tebing dan berbisik: “Jika ada kupu-kupu kuning muncul dari sana, itu artinya aku sudah tak lagi menunggu.” Dan si gadis (kekasih si pendekar) pun membuang muka. Menyembunyikan air mata yang menderas. “Baiklah, kita berpisah,” bisik si gadis sambil berlari ke dalam hutan. Dan sejak itu, ketahuilah, si pendekar dan si gadis tak lagi ketemu. Keduanya seakan lenyap. Komik pun tamat. Dan apakah aku bersedih? Tidak, Adik. Aku tak bersedih. Aku tetap menatap jembatan. Seperti tatapan seekor anjing pada sosok tuannya yang saban sore pulang. Pulang dengan sekantong daging segar. Dan Adik, kini, apakah kau masih rajin menyulam? Menyulam mawar dengan tujuh butir embun di kelopaknya. Mawar yang selalu kau sebut sebagai kembang sorga tanpa tanding. Kembang sorga yang pernah ditanam Adam hanya untuk memuja Hawa. Dan kembang sorga yang menjadikan aku percaya, bahwa antara menunggu dan sebaliknya, adalah semacam udara yang tak pernah habis dihirup. “Datang, datanglah Adik. Seperti dulu. Ketika dari jembatan, kau muncul. Bertopi lebar….”
(Gresik, 2018)