Kejahatan yang Tersembunyi, Batas, Rumah Siput, Hantu Penulis, Yang Menunggu, Kanjeng, Penjemputan, Kepada R

 

Penjemputan

 

“Percayalah, antara maut dan umur, ada yang tak tersentuh,” kata si lelaki tua. Sambil merapikan jaketnya. Dan di luar rumah, seekor capung hinggap di pagar. Seekor capung berwarna hijau. Seekor capung yang sendirian. Lalu si lelaki tua mengusap wajahnya: “Tapi siapakah yang tahu, apa yang tak tersentuh itu?” Rasanya, si lelaki tua berbicara pada sesuatu yang tak tampak. Sesuatu yang sejak kemarin mengikutinya. “Oke, ini soal yang tak mungkin dijawab, bukan?” tambah si lelaki tua terus keluar rumah. Saat itu cuaca cerah. Seekor kucing melompat. Seorang yang bersepeda melintas. Seorang polisi meraba sabuknya. “Barangkali maut ingin menjemputku,” tandas si lelaki tua seperti pada diri sendiri. Sesuatu yang tak tampak, yang sejak kemarin mengikutinya, seperti tersenyum. Dan merasa, tugas penjemputan kali ini demikian enteng. Demikian tak seperti biasanya. Si lelaki tua terus saja berjalan. Sesuatu yang tak tampak, yang sejak kemarin mengikutinya, pun terus mengikuti.

 

(Gresik, 2018)

Arsip Cerpen di Indonesia