Pete Si Kerdil

Tubuhnya berbalut pakaian berwarna biru yang berkibar ditiup angin. Meski sudah diikat asal-asalan dengan seutas tali. Tepat ketika ia membenahinya di halaman, robekan kasar pada bahan kainnya terlihat. Aku dapat melihat dengan jelas ada tulisan di sana. Ia menarik pakaiannya dan membenahi dengan serampangan. Ia menatap lurus padaku. Kemudian dia tersenyum begitu perlahan, mengedipkan mata, dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Seolah-olah memberi isyarat agar tetap menjaga rahasia. Itulah satu-satunya peristiwa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Di luar itu, aku mendengar dari mulut ke mulut. Melalui bisik-bisik keramaian atau kawan-kawan sepermainanku.

Pria itu menyebut dirinya Pendeta Dan. Ia berkata bahwa kedatangannya tidak untuk menetap lama. Akan tetapi, ia berada di kota kami atas perintah Tuhannya untuk mendapatkan uang pembangun gereja. Ia sudah memperoleh sebagian besar uang tersebut. Orang-orang heran ketika ia mengutarakan niat akan mendapatkan sisanya dengan bermain judi. Tuhan telah memberitahunya bahwa ia akan mendapatkan sisanya dalam waktu satu malam. Meski perangai itu jelas tidak patut bagi seorang pendeta, tidak ada satu pun yang mempertanyakan. Ia bersikap tenang dan murah senyum. Lagi pula saat itu orang asing tidak pernah menetap lama.

Baca juga: Pertunjukan Menyapu Jalan – Cerpen Feng Jicai (Jawa Pos, 17 Januari 2016)

Siang itu perjudian dimulai lebih awal. Di antara empat pemain yang mengelilingi meja, terlihat Pete Si Kerdil yang menunjukkan keangkuhannya, bermalas-malasan di atas kursi. Segelas wiski berada di dekat sikunya. Aku dengar Pendeta Dan hanya diam saja di sejam pertama permainan. Meski pun selalu tersenyum manis kepada siapa pun yang bersitatap dengannya.

Dua putaran pertama dimenangkan Mike McGrew dan Tom Eider. Mereka adalah penjudi terbaik di kota kami. Tumpukan uang masih sedikit jumlahnya. Keributan selalu terdengar sesaat sebelum orang-orang kemudian bertepuk tangan dengan riuh. Di putaran ketiga, tumpukan uang mulai menggunung. Pete Si Kerdil memenangkan babak tersebut. Senyumnya merekah untuk pertama kali. Pendeta Dan balik tersenyum.

“Payah sekali,” umpat Pendeta, “Aku rasa Tuhan butuh bantuan malam ini.”

Pete Si Kerdil tersenyum dengan riang.

Pendeta Dan melanjutkan, “Senapanmu menarik perhatianku. Bolehkah aku menyentuhnya?”

Ruangan hening seketika saat senyum di bibir Pete Si Kerdil lenyap. Secepat lalat yang dikibaskan ekor kuda.

“Hanya aku yang boleh menyentuhnya.”

“Oh, aku tidak bermaksud lain.”

Arsip Cerpen di Indonesia