Pete Si Kerdil

Si Pendeta menyeringai lunak. “Kau tahu aku bukan pria kebanyakan. Aku hanya pelayan Tuhan. Aku tidak biasa mendapatkan kesenangan dari sebuah senapan. Tapi aku dengar kau sangat terampil dengannya. Aku benar-benar ingin menyentuh si pengeluar asap yang telah menyebabkan banyak kerusakan.”

Entah karena kekaguman si pendeta atau Tuhan telah melembutkan hati Si Kerdil. Setiap orang terkejut ketika Pete Si Kerdil mengeluarkan revolver pistol 45-nya dari sarung senapan. Ia menaruhnya di atas meja. Lalu menatap tajam ke seluruh penjuru. Ia menantang siapa saja yang berani mengernyitkan dahi.

Pendeta Dan dengan tenang mengambil senapan. Ia memperhatikannya dengan seksama; mengamati tempat keluarnya peluru, menimang-nimangnya perlahan mengukur berat. Lalu sekonyong-konyong tanpa sebab, senapan itu terjatuh ke atas lantai. Bruk!

Baca juga: Seorang Petani – Cerpen Fyodor Dostoyevsky (Jawa Pos, 27 Maret 2016)

Pete Si Kerdil terlompat dari kursi. Dengan sigap ia berlindung ke belakang kursi seraya menjerit. Pendeta membungkuk dan memungut senapan. Ia mengusap-usap pistol dengan ujung pakaiannya.

“Maafkan aku,” ujarnya, seraya mengembalikan senapan.

“Jangan main-main denganku!” ancam Pete Si Kerdil.

Seisi ruangan menghembuskan napas lega ketika ia menyarungkan kembali si 45 seraya duduk.

Setelah itu waktu bergulir dengan cepat sementara taruhan semakin membesar. Mike Mc-Grew menjauh dari meja.

“Kantongku sudah tipis,” ucapnya.

Sekarang tinggal tiga orang mengelilingi meja. Dua di antaranya si Kerdil dan si Pendeta. Si Kerdil sudah menang besar. Ia mempunyai setumpuk kecil uang kertas dan koin. Tanpa berpikir panjang, ia telah kembali dalam pertaruhan yang jauh lebih besar.

Baca juga: Mengapa Kalian Tidak Berdansa? – Cerpen Raymond Carver (Koran Tempo, 23-24 April 2016)

Mungkin Pendeta Dan merasa tertekan, tapi ia tidak memperlihatkannya meski pun semua uang pembangun gerejanya telah beralih dengan mudah kepada Si Kerdil. Hingga akhirnya sesaat menjelang malam, putaran terakhir telah habis. Pete Si Kerdil memenangkan semua taruhan. Ia meraih setumpuk uang dengan lengannya yang kekar dan mulai menarik semua uang kepadanya.

“Tunggu!”

Suara itu terdengar dingin penuh ancaman. Si Kerdil tersentak. Ia tidak menyangka bahwa itu suara si Pendeta yang melanjutkan, “Kau sudah berbuat curang sepanjang malam! Jika kau mengambil uang tersebut, maka kau sudah melakukan pencurian!”

Tangan Si Kerdil bergerak menyentuh senapan. Tapi begitu ia menyadari si Pendeta tidak membawa satu senjata pun, ia menahannya di sana sebagai pengancam. “Aku tidak berbuat curang, dan tidak ada yang boleh memanggilku begitu! Bahkan seorang pendeta!”

Arsip Cerpen di Indonesia