Pete Si Kerdil

“Benarkah?! Biar Tuhan yang memutuskan! Jika kau tertarik untuk berkelahi di jalanan seperti seorang pria sejati dan tidak takut untuk berjumpa dengan Penciptamu!”

“Kau bahkan tidak memiliki senjata!” cibir Si Kerdil, “Dan kau bahkan tidak tahu bagaimana caranya menembak,” ujarnya meremehkan.

“Kita tidak sebanding, itu benar. Tapi Tuhan telah berkata bahwa aku akan memiliki uang itu malam ini. Kau tak boleh menjadikannya seorang pembohong!” Si Pendeta menyipitkan matanya dengan serius. “Jika seseorang di sini dapat meminjamkanku senjata, siapa pun yang bertahan akan menyuarakan kebenaran!”

Pete Si Kerdil belum pernah menolak duel senjata seumur hidupnya. Si Pendeta dipinjami sebuah ikat pinggang dengan dua pistol melekat di kedua sisi oleh si pelayan di kedai minuman. Mereka lalu beranjak keluar ke seberang jalan. Sebuah kerumunan kecil mulai terbentuk. Bukan untuk menyaksikan Pete Si Kerdil membunuh orang lagi. Tetapi, sebagai wujud dukungan terhadap seorang Pendeta yang bodoh. Ia sebentar lagi akan mati demi pembangunan sebuah gereja.

Kedua pria itu berdiri di sana seolah-olah tak berujung. Masing-masingnya memegang sebuah senjata dengan tangan yang siaga. Sebuah tembakan meletus. Sekumpulan asap dan bau letusan senjata memenuhi udara. Pete Si Kerdil meniup asap di ujung pistolnya. Sementara itu, ia memperhatikan postur tinggi Pendeta Dan terpuruk di tanah. Sekumpulan wanita di kerumunan menjerit histeris.

Baca juga: Pencegahan Bunuh Diri – Cerpen Jaroslav Hasek (Jawa Pos, 16 September 2018)

Pete Si Kerdil bersikap acuh dan tampak bosan. Ia menyarungkan pistol kembali. Ia baru saja melangkahkan kaki ke kedai minuman ketika tubuh si Pendeta bergerak perlahan. Pete Si Kerdil yang tidak pernah gagal membunuh dengan satu tembakan terdiam dan terpana melihat si Pendeta berdiri dan kembali mengangkat senjata pinjaman. Maka Pete Si Kerdil harus menembaknya kembali, paling tidak dua kali untuk memastikan. Si Pendeta terjatuh seperti pohon tumbang. Jatuh tanpa hambatan dengan wajah lebih dulu tersungkur ke tanah.

Si Kerdil mengusap dahi dengan sebelah tangan tetap memanggul senjata. Matanya tak lepas dari si Pendeta. Apa yang tak ia duga terjadi lagi. Sekerumunan orang menahan napas ketika mereka melihat si Pendeta berjuang untuk bangkit kembali.

Kali ini, Pete Si Kerdil bahkan tidak memberi kesempatan bagi si Pendeta untuk mengangkat senjatanya. Untuk pertama kali seumur hidup, ia mulai ketakutan. Dua tembakan meletus kembali. Si Pendeta terlempar jauh. Kerumunan orang beranjak menjauh. Ada sesuatu yang begitu menakutkan mereka. Yang misterius secara spiritual mengenai duel senjata ini ketika seorang laki-laki tidak bisa terbunuh. Mereka mulai berbisik-bisik ketakutan, mungkin saja si Pendeta berkata jujur mengenai percakapannya dengan Tuhan. Hal yang sama juga terasa oleh Pete Si Kerdil. Dengan muka yang pucat, ia dengan perlahan mendekati si Pendeta. Mereka berjarak dua puluh kaki, ketika si Pendeta bersusah payah untuk berlutut dan berdiri. Kali ini ia menjulurkan tangan dan membuka telapak tangan memberi isyarat, “Kau berhutang uang padaku.” Matanya kelam menatap tajam kepada Pete Si Kerdil. Tampak jelas Si Kerdil mulai gemetaran. Kali ini ia mengarahkan pistol ke kepala si Pendeta. Itu adalah peluru terakhirnya.

Arsip Cerpen di Indonesia