Pete Si Kerdil

Ketika sebuah tembakan meletus lagi, tangan Pendeta Dan menyentak dan menekan keras dahinya. Tubuhnya terayun dengan kuat sepenuh lingkaran sebelum akhirnya menunduk terjatuh ke tanah. Tak ada seorang pun dan tak ada satu pun yang berani bergerak. Kecuali ujung jubah pendeta yang tertiup hembusan angin malam. Jiwa Pete Si Kerdil terguncang. Tampak jelas ia tidak bisa berhenti memperhatikan tubuh itu dengan lekat. Kerumunan orang mulai bertukar pandang. Antara si Kerdil dan tubuh itu. Mereka tidak tahu mana yang tidak masuk akal. Mereka tidak pernah melihat Pete Si Kerdil segemetar itu mau pun menyaksikan seorang pria yang sudah mati hidup kembali.

Baca juga: Keringat – Cerpen Jorge Amado (Koran Tempo, 27 April 2014)

Tiba-tiba ada pergerakan kecil di bagian pinggang si pendeta. Seekor burung, merpati putih, berjuang membebaskan diri dari bawah tubuh pendeta. Dengan sebuah dekutan lembut “kuur, kuur,” ia mengepakkan sayap dan terbang ke tengah-tengah langit malam yang berawan. Lalu menghilang dari pandangan.

Aku tidak tahu apa pendapatmu, tapi orang-orang kota dan Pete Si Kerdil sama-sama berpendapat itu adalah sebuah tanda dari Tuhan. Tak diragukan lagi, Pendeta Dan benar-benar pelayan Tuhan dan Pete Si Kerdil baru saja membunuhnya. Terkesima, ia perlahan beranjak berbalik arah. Ia melangkah yang ke-10 kalinya ketika tubuh si Pendeta menggelepar keras. Dengan perlahan ia mencoba untuk bergerak sendiri hingga mampu berdiri tegak.

“Kemana kau akan pergi!?!?!?”

Suara itu menggelegar dalam keheningan, seperti suara dari dalam kubur di pemakaman kota!

“Kau telah mengambil uang Tuhan dariku!!”

Baca juga: Kota Livia – Cerpen Pierre J. Mejlak (Koran Tempo, 24 Juni 2012)

Pete Si Kerdil dengan mudahnya terjatuh. Wajahnya seperti dicekik kengerian. Ia menjatuhkan senjata, memutar tumit dan berlari terbirit-birit hingga menghilang dari pandangan. Sekerumunan orang terpana menyaksikan dia berlari terbirit-birit sebelum akhirnya berubah ketakutan menatap si Pendeta. Masih dalam posisi yang sama, si pendeta tersenyum lebar, ramah dan entah bagaimana menjadi tidak menakutkan lagi. Ya, ada tetesan darah di keningnya tapi dengan satu sapuan lengan baju, darah itu secara misterius sirna.

“Satu masalah sudah berakhir,” ujarnya dengan suara yang bersahabat. “Dan jangan khawatir, kecuali kalian mengingkari janji memberikan hadiah sudah menyingkirkan si ular Pete.” Ia mengedipkan sebelah matanya.

Arsip Cerpen di Indonesia