Aku masih berlari dan berteriak merapal namamu. Berlari dengan sedikit membusungkan dada. Tapi sayang sekali tidak ada yang bisa menangkap suaraku atau membantuku. Sungguh aku tak bisa hidup tanpamu, Iraya. Kau tahu itu bukan? Bahwa cinta itu untuk diperjuangkan bukan direlakan?
Aku telah sampai di bibir jendela kamarmu. Berjalan pelan-pelan menginjak bunga-bunga yang sangat disayangi bapakmu. Iya, tentu kau tahu. Bahwa yang sangat mencintai bunga-bunga adalah bapakmu. Bapakmu selalu menyiram bunga-bunga itu sebelum ia berangkat dan sepulangannya kerja meski ia dihajar lelah. Sungguh aku tidak bermaksud menginjak bunga-bunga itu, Iraya. Aku hanya ingin mengintip dari luar gorden kamarmu yang terbuka sepertiga. Aku mengamati lekuk jemarimu yang memoles pipi rona sebelah kanan dengan sapu kecil berwarna coklat. Iya, aku hanya mampu memandang tubuhmu dari samping kanan. Betapa aku turut marasai kebahagiaanmu, ketika kau begitu lembut menyapu pipimu di depan cermin kemudian senyum-senyum sendiri. Perlahan pipi kananmu semakin nampak merona. Aku yakin pipimu sebelah kiri pun memiliki warna yang sama. Sebab aku paham benar bahwa kau pandai berdandan. Sebab kau pun selalu memperhatikan bagaimana detail dalam berpenampilan. Iya, belakangan aku tahu kemahiranmu itu dari karibmu. Bahwa kau selalu mempelajari cara berdandan melalui tutorial di dalam YouTube atau iklan di dalam Facebook.
Baca juga: Cornelia dan Api di Dadanya – Cerpen Seto Permada (Rakyat Sultra, 15 Oktober 2018)
Kau bangkit dari kursi kemudian perlahan-lahan memutar tubuhmu di depan cermin. Mengagumkan! Kau nampak cantik, Iraya. Sungguh sangat cantik dengan gaun putih yang pernah kita bicarakan tahun-tahun yang lalu di bilangan Yogyakarta ketika kita sedang kencan merayakan hari jadian—sebelum bapakmu mengetahui bahwa kita memiliki hubungan khusus—saling menukar kesedihan dan kebahagiaan. Dalam percakapan kita, kau sudah memilah-milah gaun apa yang akan kita kenakan nanti. Kita akan menikah kemudian beranak pinak generasi yang disayangi Tuhan dan semesta.
Kau masih memutar-mutar tubuhmu di depan cermin sambil tersenyum sendiri. Kau menganggap bahwa malam itu adalah malam penentuan langkah yang terbaik, yang sudah kau tetapkan atau sepakati dengan keluargamu. Mendadak aku semakin terpukau, kemudian aku membungkukkan badan. Kepalaku merunduk seperti bunga-bunga yang kuinjak. Mataku tiba-tiba sayu. Kegelisahan menderu, air mata menderas seperti sungai-sungai di musim hujan. Entahlah, aku merasa bahwa mimpi-mimpi itu telah kau patahkan begitu saja.