Iraya, apakah kau bisa merasakan hatiku ketika aku mengetahui bahwa kau akan hadir ke ruang tamu untuk menyambut lelaki yang akan melamarmu pada pukul 07:00 malam itu? Sungguh hatiku mendadak terdesak, jantungku sesak. Seperti ada yang menekan-nekan dadaku serupa orang yang tenggelam dan sekarat karena tidak bisa berenang.
Kau masih berdiri di depan cermin. Kali ini kau berhenti memutar tubuhmu. Sebab, kau sudah terlalu puas mengagumi kecantikanmu. Kau duduk kembali menghadap cermin. Kau pandang lekat-lekat wajahmu. Kemudian merunduk membuka laci rias secara perlahan. Kau mengeluarkan figura kecil yang tertumpuk dengan album foto masa kecilmu dengan keluargamu dari dalam laci.
Oh Tuhan, di dalam figura itu adalah foto kita ketika di bangku taman depan perpustakaan fakultas ilmu budaya, universitasmu. Kau usap-usap wajahku, kau usap air matamu yang jatuh di atas kaca figura. Aku berteriak memanggil namamu. Tapi tenggorokanku terasa serak. Kau tak mendengar, tak seorang pun yang mendengar. Lamat-lamat suara orang-orang di rumahmu semakin ingar. Orang-orang berdatangan satu persatu memasuki rumahmu. Memberi salam dan senyuman kepada bapakmu yang sedari tadi menunggu tamu-tamu itu di depan pintu. Iya, sangat jelas sekali aku tatap mereka satu persatu. Sebab, jendela kamarmu sangat dekat dengan pintu rumahmu. Beruntungnya aku tidak terlihat oleh sepasang mata bapakmu. Kalau saja terlihat, barangkali malam itu juga ia akan membunuhku. Barangkali ia akan merasa bahwa aku ada niatan ingin merusak atau menggagalkan acara bahagia ibu dan bapakmu. Apa termasuk kau juga turut bahagia, Iraya? Barangkali iya, sebab aku melihat kau sedari tadi mengagumi kecantikanmu di depan cermin sambil tersenyum malu. Bagaimana dengan air mata yang kau alirkan dari kedalaman matamu ketika memandang foto kita di figura?
Baca juga: Membaca Jalan Pikiran Ibu – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Rakyat Sultra, 01 Oktober 2018)
Ibumu membuka pintu, menonjolkan kepala dari pintu yang setengah terbuka.
“Iraya, keluarga lelaki sudah datang. Bersiaplah. Pasang senyum yang paling manis. Malam ini adalah kebahagianmu. Kebahagiaan kita semua.”
Kau menganggukkan kepala. Tubuhmu terasa berat untuk bangkit dari kursi rias. Sepertinya kau menarik napas sangat panjang sehingga aku melihat dan mendengar suara hempasan napasmu. Apakah kau ingin teriak malam itu, Iraya? Entahlah. Aku yang datang mengamatimu berlarut-larut itu hanya mampu memanggul kesedihan. Mencecap kenangan.